Browse By

Alquran Sebagai Pembentuk Karakter Anak

10306469_432641523569943_7491238345102618197_n


Resume Diskusi HSMN Bogor

Tanggal : 18 Februari 2015
Narsum : Ibu Maya Hayati ,SH
Pelaku HS
Tema : ALQURAN SBG PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK

CV untuk narsum kita kali ini :
🔸Nama : maya hayati 🔸Tempat tgl lahir : jakarta 7 feb 1982
🔸menikah th 2003 dan memulai home schooling unt anak2 nya th 2004
🔸Nama putra/ putri nya:
Mumtaz 10 th,
hamzah 9 th,
zaeda 7 th,
azka 6 th
🔸membuka kauny quranic school, dan menjadi pengasuh mahad askar kauny sejak 2013

***

Assalamualaikum wrwb ibu2 yg dirahmati Allah.

Rasulullah SAW diutus Allah utk menyempurnakan akhlak manusia. Dan kita bisa lihat bagaimana para sahabat beliau, mengalami perubahan luar biasa dlm kehidupan mereka ketika menyatakan keimanan kpd Allah, dan apa yg disampaikan lewat Rasul-Nya, yaitu alqur’an.

Saya yakin ibu2 semua sdh paham bagaimana karakter para sahabat, perubahan mereka dari masa jahiliyah hingga menjadi generasi terbaik yg pernah ada. Betapa firman Allah merasuk dalam relung jiwa mereka dan merubah hidup mereka. Menjadi manusia paling bebas di muka bumi, manusia dgn kecakapan luar biasa, keberanian dan idealisme..yg semuanya berujung pd pemahaman mereka trhadap ajaran agama yg sempurna, yg tertera dalam alqur’an.

Berabad jarak kita dari generasi emas tersebut, jauh pula kualitas ummat kini dgn mereka. Dan itu berbanding lurus dgn lemahnya interaksi kita dgn kalamullah.

Said Nursi, sesaat sebelum kekhalifahan ambruk, maka beliau menemukan bahwa obat dari segala penyakit yg melanda ummat saat itu adalah cahaya alqur’an. Maka dgn risalah annur beliau berjihad dan berhasil menggerakkan ribuan bahkan ratusan ribu pemuda turki saat itu.

Luar biasa sinar alqur’an. .dan memang hanya itulah solusi bagi ummat yg kini sedang digempur dari segala arah untuk melemahkan iman kita. Pornografi, miras dan obat2an, kekerasan, bermewah2an, panjang angan2 dan malas menjadi simbol bagi ummat kita saat ini, terutama generasi muda, dan mulai menjangkiti buah hati kita.

Apakah dgn gempuran sedemikian rupa kemudian kita merasa aman mengisolasi mereka dalam sekolah selama 6-8 jam? Kemudian menjejali mereka dgn PR dan aneka les tambahan?

Oh tidak… bahkan sama2 kita tau malahan semua penyakit tersebut tersaji lengkap di sekolah anak2 kita.

Oh..sekolah anak kita mewajibkan hafalan alqur’an minimal 2 juz dalam 6 tahun masa sekolahnya… apakah itu cukup? Jawabannya juga tdk… karena alqur’an bukan hanya rapalan, bukan mantra yg hanya dgn hafal 1 atau 2 juz maka akan menjadi benteng bagu anak2 kita.

Lalu bagaimana bila hafalan itu juga tdk menjadi benteng yg kokoh bagi mereka?

Jawabannya adl dgn menjadikan alqur’an bermakna buat mereka…Menghafal al-qur’an? Itu memang wajib… bukan sunnah atau tergantung kemampuan.. tapi wajib. Namun wajib disini tdk hanya utk dirapalkan atau sbg embel2 gelar hafizh hafizhah namun juga berbuat maksiat krn tdk paham apa yg sedang dihafal.. namun wajib menghafalnya dgn pemahaman..Bukan sekedar mengejar waktu, “menghafal 30 juz dlm waktu 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun, 2 tahun” namun dalam prosesnya tdk mendapatkan keindahan dan ketentraman.

Bukankah umar bin khattab pernah berkata kalau ia tdk akan beranjak menghafal ayat lain dlm alqur’an bila blm memahami dan mengamalkan apa yg sedang beliau hafal?

Adakah pelajaran yg bisa diambil dari knp Allah menurunkan alqur’an berangsur2 selama 23 th kpd Rasulullah? Apakah Allah memandang Rasulullah kurang cerdas sehingga tdk menurunkan alqur’an dlm waktu 1 bulan saja agar beliau bisa hafalkan dan ajarkan pada para sahabatnya?

Tidak lain adl agar ayat2 alqur’an menjadi darah daging bagi Rasulullah dan para sahabatnya.

Dlm dunia scientist masa kini, hal tersebut sdh dibuktikan. Bahwa seseorg yg membaca buku dgn satu genre yg sama terus menerus selama 20 tahun, maka ia akan tumbuh dgn jiwa yg mencerminkan apa yg dia baca. Bila ia terus membaca buku humor selama 20 th, ia akan jadi org yg humoris. Bila novel romantis yg dibacanya, maka ia tumbuh menjadi romantis…

Maka, alqur’an pun sama, ia baru akan menjadi pembentuk karakter dan benteng bagi keimanan seseorg, bila dipahami dan dibaca terus menerus sepanjang hayat. Dihafal dan dimaknai… maka itulah yg menjadikan para sahabat sbg generasi terbaik yg pernah ada. Wallahu a’lam bishowwab.

***

Tanya Jawab:

1⃣ummu ammar:Assalamualaikum… apa perbedaan karakter dan kepribadian dan apa saja komponen pendukungnya Jazakillah khoiran

J : Ummu ammar : karakter dan kepribadian dlm islam dikenal sbg akhlaq. Sementara akhlaq itu secara ringkas dimaknai sbg sebuah pemikiran, ucapan, tindakan yg dilakukan tanpa perlu berpikir, dan dilakukan secara terus menerus setiap hari. Sehingga unsur spontanitas sangat diperlukan disini.

Akhlaq yg mulia maupun akhlaq yg buruk, keduanya sama2 melalui proses pembiasaan. Sehingga biasakan anak kita utk melakukan perbuatan baik agar lama kelamaan menjadi akhlaq bagi dirinya.

*

2⃣mba asri: Bagaimana menjelaskan ke anak adanya adik bayi di perut. Usia anak pertama blm dua tahun?

J : Mbak Asri : banyak buku2 ilmu pengetahuan populer yg memiliki gambar cukup bagus dan mampu dipahami anak seusia itu. Silakan dicari dan dipilih yg paling aman. Jelaskan dgn bahasa yg mudah dipahaminya dan ajarkan kasih sayang shg anak kita bisa bersiap menjadi seorg kakak…

Surat an najm ayat 45-46 juga bisa menjadi dasar bagaimana kita mengajarkan proses terjadinya manusia tanpa khawatir akan terkesan vulgar. Al waqi’ah: 58 juga.

*

3⃣Asslmkm. Bunda…Persiapan apa yg harus dilakukan orang tua dan anak sblm memulai home schooling? Saat ini kondisi sy masih bekerja (9-17), ayahnya mengajar d sklh alam.. Anak sy Dimas (3,5y) , Aisyah (1,5y)
-Melyantina- jazakillah

J : Ibu meylantina: hal pertama bila ingin memulai HS adalah “MEMULAINYA” . Bila kita terlau fokus pd kekhawatiran terutama yg berasal daru tekanan keluarga besar atau org2 di sekitar kita, maka kita tdk akan kunjung mewujudkan HS dirumah kita.

Kemudian setelah langkah pertama, tentu saja menentukan fokus pada pendidikan anak kita.

1. Apa yg akan kita beri
2. Bagaimana cara kita memberikannya
3. Apa peran ibu dan apa peran ayah
4. Perangkat apa saja yg diperlukan dlm proses HS tersebut.

*

4⃣ Mohon refrensi dan rekomendasi buku, komunitas dll yg menunjang utk HS beginer-mba mely

J : Sebetulnya utk buku dan komunitas itu dicari setelah bu meli menentukan fokus dari HS yg akan ibu selenggarakan bagi anak2 ibu. Sehingga ibu bisa mendapatkan yg sesuai.

Ada 2 komunitas yg saya tau bila ibu menginginkan HS yg fokus pd pendidikan keislaman, Khoiru Ummah dan Kamyabi Home Schooling. Yg lainnya maaf saya kurang tau. Mungkin ibu2 disini juga bisa sharing. Kalau utk buku, saya dulu memulainya hanya dari 1 buku yg menginspirasi saya, yaitu buku berjudul Ibuku Guruku.

*

5⃣ ummu ammar: Maaf bunda bila ditinjau dr bhs akhlaq=khuluq sedangan kepribadian =syaksiyyah dr definisi nya aja sdh beda kalo buka kamus bhs arab mohon penjelasannya krn takut rancu Jazakillah khoir ✅

J : Ummu ammar: baik ibu, saya memang hanya menjelaskan tentang akhlaq yg saya rangkum dari buku2 Sayid Sabiq, Ihya’ ulumuddin dan buku minhajul qoshidin-nya Ibnu Qudamah.

Mohon maaf kalau saya tdk berkapabilitas membedakan keduanya. Kebetulan saya baru memberikan mater tersebut kepada anak2 saya tadi pagi 

*

6.bu maya,bagaimana menerapkan hs sedangkan anak sy senangnya bermain dengan tmnnya?-dewi

J : Ibu dewi: wah bagus bu, berarti ibu bisa punya tambahan murid  Saya tdk paham proses HS yg benar2 memindahkan kurikulum sekolah ke rumah ibu…karena proses belajar dgn duduk diam pada anak2 saya itu beragam tergantung usia mereka.

Namun memang dlm HS diperlukan kedisiplinan, sekalipun fleksibel tetap saja harus ada kesepakatan dgn anak tentang jadwal2 yg harus sama2 diikuti baik oleh orgtua atau anak.

Diskusikan dgn anak ibu dan buat kesepakatan bersama. Bila memang anak harus duduk selayaknya di kelas dlm sebuah sekolah, maka saya jamin itu tdk akan memakan waktu selama yg diperlukan di sekolah, insyaAllah.

*

7.Sejak umur berapa anak diajarkan utk memahami (bukan hanya menghapal) Qur’an? Anak saya usia 1y4m, gmn cara mengajarnya memahami qur’an, shg mendarah daging & kelak selalu berpedoman pd qur’an?-mba rosy✅

J : Mba Rosy : anak seusia putra ibu pasti sangat tertarik dgn kisah. Jadikan alqur’an sebagai bacaan yg sering didengarnya krn pendengaran mereka sangatlah tajam, dan dongengkan pada anak ibu kisah2 yg menggambarkan keindahan akhlaq para nabi, sahabat dan shalafush sholih.

Nanti seiring pertambahan usianya, perkenalkan pula pada adab2 islam. Sesungguhnya dgn cara itu maka kita sdh menanamkan nilai2 alqur’an pada diri anak2 kita. Bukankah porsi terbanyak dlm alqur’an adl kisah2?

*

7⃣Jika ortu bekerja bagaimana penerapan HS nya?-mba agry

J : Mba agry: memang yg terbaik bila ibu memutuskan utk menjalankan program HS adl dgn menjalankannya secara penuh. Namun bukan maksud saya dgn mengajarkan segalanya sendiri ya bu.. krn kan tdk mungkin kita menguasai semua bidang ilmu kecuali yg kalau Allah kehendaki.

Tapi kalau tdk memungkinkan, maka ibu dan suami harus menjelaskan perencanaan HS utk anak ibu kpd org2 yg diberikan amanah utk menjalankannya.

Misalnya, kpd guru tahfizh bila anak ibu menghafal. bila anak ibu melukis, maka jelaskan pula aturan main yg ibu buat pd guru lukis anak ibu. Dan berikan pula amanah pada anak ibu utk disiplin pd jadwal yg ibu dan suami berikan walaupun ibu dan suami tdk langsung mengawasi.

Sebisa mungkin sempatkan waktu utk mengevaluasi kegiatan anak hari itu sebelum mereka beranjak tidur dan buat agenda bersama mereka di akhir pekan. Misalnya ujian hafalan alqur’an anak dlm sepekan, dimana ibu dan bapak berperan sebagai juri dan saudara2nya -adik dan kakak bila ada- sbg penonton.

Sehingga ada motivasi bagi anak dan ia tdk sabar utk menunggu akhir pekan utk menunjukkan prestasinya.

*

8⃣Bunda maya, bagaimana cara menanamkan akhlak yg baik terhadap anak yg sudah terlanjur remaja namun memiliki sedikit keterbelakangan pemikiran?-devy✅

J : Ibu devy : saya bln berpengalaman dlm hal ini, namun seandainya saya yg menghadapi hal tsb rasanya saya ingin mencoba dgn mencontohkan langsung pada anak tsb…

Kalau dgn penjelasan panjang lebar mungkin mereka tdk bisa memahaminya, namun bila terus menerus dijadikan rutinitas, maka secara otomatis akhlaqnya akan terbentuk.

Misal, setiap anak makan dgn tangan kiri, maka kita pindahkan dgn lembut makanan tsb ke tangan kanannya.. bila ia memukul saudaranya, maka kita pegang tangannya dan kita bimbing utk membelai saudaranya… mungkin ibu2 disini ada yg lbh berpengalaman.

Namun kalau membimbing anak down syndrome menghafal al-qur’an alhamdulillah saya dan suami sdh memiliki pengalaman ttg itu dlm beberapa kali pelatihan yg kami adakan.

Kalau dgn remaja, ini pengalaman saya, mereka tdk suka kita banyak bicara. Namun mereka akan tergerak bila kita menjadi teladan langsung dgn perbuatan kita.

Ada anak asuh saya, yg bercerita bgmn bencinya ia ditugaskan mengarit rumput oleh gurunya di sekolah sebelumnya. Namun ketika ia tiba di tempat saya dan kebetulan saya mengajak mereka membersihkan jalan di sekitar kampung tempat tinggal kami, ia dgn suka rela bahkan memaksa mengambil cangkul dari tangan saya ketika melihat saya kesulitan menggunakannya 😊 dan hati saya meledak2 karena haru saat itu.

***

Artikel-artikel bu Maya;

Artikel2 saya ttg anak2 kami yg dulunya baik mereka dan keluarganya tdklah mengenal alqur’an, namun dgn pemahaman yg sedikit2 mereka perolwh dari hafalan yg hanya 3 baris sehari namun dgn artinya, maka mereka menjadi pribadi yg baru dan lebih baik.

1. Luna Sudah Berubah

Di masa liburan ma’had, saya menerima sms dari salah seorang ibu yg merupakan tante dari salah seorang santri akhwat di salah satu ma’had kami. Dan sms tersebut membuat saya tersenyum sembari menitikkan air mata.

Luna -bukan nama asli- adalah seorang santri kami yg masuk dalam keadaan buta sama sekali tentang agama. Ia baru saja lulus SD. Ketika tantenya mendaftarkan Luna via telp pada saya, tantenya bilang kalau Luna sampai menangis meminta dimasukkan pesantren.

Tantenya bilang, permintaan itu walau membingungkan, namun terasa bagai angin surga baginya. Karena apa? Karena orangtua Luna bukanlah orangtua yang peduli terhadap pendidikan, apalagi akhlak dan agama keluarga mereka. Terlebih, mereka tinggal di lingkungan kumuh padat penduduk, dimana mayoritas gemar bermaksiat dan melupakan agama. Kata2 kasar maupun lagu hingar bingar sudah bukan hal aneh lagi dan tidak ada yang peduli apakah tetangga mereka terganggu atau tidak. Perempuan2 berpakaian seenaknya berseliweran tanpa ada yang risih. Maka tante Luna begitu memohon agar saya menerima Luna. “Tapi ada tesnya ya bu…” jawab saya yang langsung saja diiyakan oleh sang tante.

Maka datanglah Luna. Masih suka berteriak, bicara ceplas ceplos, namun manja luar biasa pada pengasuhnya yg ia panggil dengan sebutan “ummi dan abi”. Akan tetapi, ajaibnya Luna termasuk deretan anak yg baik hafalan alqur’an nya.

Walaupun pintar, beberapa kali ummi dan abi memulangkan Luna karena bermasalah akhlaknya. Dipulangkan bukan hanya sekedar dihukum, namun ingin agar Luna introspeksi. Ummi abi berpesan, kalau Luna masih mau kembali, maka sepulangnya Luna setelah diskors harus segera berubah. Namun beberapa kali Luna pulang, beberapa kali pula Luna berulah. Namun ummi dan abi sadar, bahwa merubah anak ini tidaklah instant. Dari 12 tahun usia Luna, 11 tahun 7 bulan Luna berada dalam lingkungan yang menjadikannya seperti sekarang. Maka 5 bulan sangatlah sebentar utk bisa merubahnya.

Beberapa kali ummi abi berkonsultasi pada saya dan saya katakan, jika kalian masih sanggup, jangan berhentikan Luna. Maka mereka pun mencoba bersabar, karena kasih sayang sudah mulai bermekaran di hati mereka.

Namun rupanya tidak ada yang sia2. Sms hari ini, yang saya terima dari tante Luna, merupakan kabar gembira dan balasan luar biasa atas kesabaran ummi dan abi yang mengasuhnya. “Ummi maya, saya berterimakasih sekali. Luna sangat berubah. Beberapa hari dia menginap di rumah saya, maka dia tdk mau tidur sebelum murajaah hafalannya. Tahajud dan dhuha tdk pernah tinggal setiap hari. Dia juga jadi rajin. Tanpa disuruh dia menyetrikakan pakaian2 saya. Bicaranya juga sdh tdk teriak2.”

Allahu Akbar! Tidak ada yang tidak bisa berubah bila sudah bersentuhan dengan firmanNya. Setiap hari Luna menghafal firman Allah dengan hatinya. Ayat2 itu mengalir dalam setiap aliran darahnya dan berdegup bersama denyutan jantungnya. Dan kini, Luna mulai menampakkan lewat akhlak indahnya. Akhlak mulia, yang disyukuri oleh keluarganya.

Maka kisah Luna ini menjadi pelajaran bagi saya, untuk terus bersabar dalam mendidik anak2 kami. Dan cara termudah untuk mendidik anak2 adalah dengan mengakrabkan mereka dengan Al-qur’an…

***

2.Hidayah Indah bagi Anto

Setahun lalu, Anto -bukan nama sebenarnya- dikenal sebagai anak nakal di kampungnya di salah satu daerah di jawa tengah sana. Kebiasaannya jajan kerap membuatnya merengek pada sang ibu, bahkan sampai terkadang nekat mencuri.

Tetangga2nya, sampai kesal dengan Anto. Karena walau sudah tau bahwa tiga tahun terakhir setelah sang ayah yang penarik becak tiada lalu ibunya harus berjuang banting tulang berjualan nasi kuning setiap hari, keadaan itu tidaklah membuat Anto prihatin. Jadilah para tetangga sering ikut menegur Anto agar tidak berulah. Tapi segala teguran itu tidaklah mempan baginya.

Namun ada satu kalimat yang terdengar oleh seorang kakak ipar saya, tentang Anto yang kebetulan adalah tetangga di kampung halamannya itu. Kalimat yang mengabarkan, bahwa Anto sedari kecil ingin sekali masuk pesantren namun tidak punya biaya. Maka tanpa banyak berpikir lagi dan atas persetujuan sang ibu, kakak ipar saya pun membawa Anto ke rumah kami, Ma’had Askar Kauny di Cijulang.

Bergabunglah Anto bersama teman2 barunya di tempat baru dengan peraturan baru. Awal dia datang, seringkali saya dan suami harus bersabar dan menahan diri agar tidak mengomel dengan ulahnya. “Ummi… bel di atas hampir lepas dilempar Anto pake bantal…” adu temannya tergopoh2. “Kenapa kok dilempar?” tanya saya terkejut. “Dia kesal mi, berisik katanya!” Ooo… dia tidak suka mendengar suara bel yang saya pencet untuk membangunkan mereka tidur siang, padahal mereka harus bersiap sholat ashar.

Di lain waktu teman2nya mengadu lagi soal protes2 Anto yang lain terkait aneka peraturan di ma’had. Agak gemas saya mendengar ada anak yang melawan, tapi saya tidak menegurnya sendirian, melainkan saya kumpulkan mereka untuk dinasehati bersama2.

Di lain waktu kami adakan juga muhasabah sebelum mereka tidur di malam hari dan materi adab serta akhlak terus menerus kami berikan setiap hari. Sementara itu, Anto yang semula masih kesusahan menghafal, lama kelamaan mulai menemukan kenikmatan dan kemudahan atas petunjuk Allah. Tidak hanya itu, dia mulai akrab dengan kami yang memgasuhnya, teman2nya, dan menunjukkan kecintaannya pada rumahnya yang baru ini. Sebagai puncaknya, predikat “mumtaz” pun ia raih pada ujian juz 27 yang pertama kali ia lewati. Terharulah kami semua, termasuk kakak ipar saya yang membawanya ke tempat kami.

Yang menjadi kabar lebih menggembirakan lagi, setelah Anto kembali ke ma’had dari kampungnya usai liburan 2 pekan kemarin, saya mendapat salam dari ibunya yang disampaikan oleh kakak ipar saya. Ibunya menyampaikan ucapan terimakasih dan tidak henti bersyukur pada Allah atas perubahan positif anaknya.

Bagaimana ia tidak bersyukur, karena selama Anto liburan di rumah kemarin, Anto tidak lagi kelayapan ke luar rumah. Yang dulunya tidak pernah membantu di rumah, kini rajin membantu ibunya berjualan. Adik2nya diajak sholat ke masjid, diajarkan membaca Al-Qur’an serta dinasehati untuk membantu ibu mereka bila Anto tidak ada di rumah. MasyaAllah… Anto saat itu telah menjadi harta paling berharga bagi sang ibu yang janda. Segala kesusahannya terbayar dengan menjelmanya Anto menjadi anak yang shalih di matanya.

Allah… tiada kata lain yang bisa kami panjatkan selain puji syukur bagiMu atas hidayah indah yang Engkau berikan pada seorang lagi hambaMu. Semoga Anto tetap istiqomah dan menjadi pemimpin kebaikan bagi keluarganya. Aamin

**

3.Aku Harus Kerja Keras

Nawang, umur 9 tahun. Tubuhnya mungil, muka bulat dengan tatapan mata yang cerdas dan cerewet luar biasa. Bulan2 pertama dia datang ke ma’had kami, ia hampir tidak pernah berhenti bercerita tentang sinetron, program televisi, film2 hantu dan artis2 korea.

Teman2nya, yang telah lebih dulu datang, sudah tau betul bagaimana saya melarang mereka untuk melihat atau membahas tontonan2 semacam itu. Namun nawang masih belum mengerti. Bahkan setelah beberapa bulan dia belajar bersama kami dan tiba waktunya datang musim liburan, secara spontan dia nyeletuk, “asiik..bisa nonton G**S lagi !” Yang saya langsung respon dengan delikan mata. Dia pun nyengir, “eh iya mi iya mii…nggak deeh…hehe”

Saya pun merasa sangat was-was bila anak2 kami ini -tidak hanya nawang- kembali nelakukan kebiasaan2 yg lama yang tidak baik, termasuk untuk masalah tonton menonton tayangan dewasa ini. Bukannya saya tidak percaya pada orangtua mereka, namun kalau nilai2 yang diterapkan di rumah berbeda, maka anak tidak akan tau apakah yang dilakukannya salah atau tidak.

Maka saya mendapat ide untuk membuat kontrak liburan. Kontrak ini berisi beberapa poin yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh anak selama liburan di rumah. Namun yang bertanggung jawab mengawasi anak melaksanakannya tentu saja adalah orang tua mereka masing2. Dan kontrak atau janji ini bukan kepada kami -pengasuh ma’had- namun langsung janji kepada Allah. Dan poin terakhir berbunyi, “apabila kami tidak memenuhi poin2 di atas maka kami dengan jujur tidak akan membawa anak kami kembali ke ma’had selama setahun lamanya.” Beraaat! Tapi itulah satu2nya yang dapat kami lakukan untuk membuat kebiasaan baik yang anak2 kerjakan selama selama hampir setahun di ma’had, tidak hilang hanya karena 2 pekan liburan.

Maka sehari sebelum liburan, saya jelaskan isi kontrak itu pada anak2 dengan diiringi tausiyah. Pun begitu ketika para orangtua datang, mereka mendapat penjelasan yang sama, dikuatkan pula oleh tausiyah ust Bobby yang membuat para orangtua berderai air mata.

Maka pulanglah anak2 kami itu. Kami tatapi satu2 kepergian mereka dengan perasaan sedih. Tapi kami masih berbesar hati karena dalam 2 pekan berikutnya insyaAllah anak2 akan kembali lagi ke ma’had.

Maka, setelah 2 pekan yang sepi, datanglah satu persatu anak2 kami itu. Semua datang dengan ceria dan semangat untuk kembali belajar bersama. Saat penyambutan mereka itulah, kakak yang mengantar nawang menghampiri. “Mi..tau nggak, di rumah nawang ceramah terus lho sama ibunya. Ibunya diingatkan untuk pakai jilbab yang lebar biar syar’i, diajak sholat jama’ah dan setiap mau tidur ibunya dibacakan alqur’an sampai tertidur.

Dan yang bikin terharu, dia ngomong ke saya “kak, aku takut deh ibu masuk neraka. Berarti aku harus kerja keras ya kak?” Lalu saya tanya kerja keras gimana? Dia jawab,”ya kerja keras ngafal qur’an kak… supaya aku bisa ngajak ibu ke surga.”

Subhanallah…. deras hujan di hati saya. Ingat betul saya di hari pertama ibunya bicara dengan saya untuk menitipkan nawang, beliau berharap semoga ada anaknya yang bisa mendoakannya dan menjadi kebaikan di rumah mereka. Dan saya yakin, nawang sedang berproses menuju harapan dan do’a ibunya itu. Saya turut bersyukur untuk keluarga mereka. Alhamdulillah.

***

Bolehkah artikel saya tersebut menjadi penutup? Semoga bisa menjelaskan betapa alqur’an dapat menjadi jawaban bagi semua permasalahan yg kita khwatirkan dlm diri anak2 kita.

Tentu saja alqur’an yg tdk hanya kita hafal, namun Alquran yg kita pahami dgn baik kandungannya…. Wallahu a’lam bishowab

Wassalam
Maya hayati

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *