Browse By

Mengajari Anak Berbisnis

11163125_473872396113522_6863152635880467474_o

Page Liked · May 25 · 


Resume diskusi “Mengajari Anak Berbisnis
Kamis, 21 Mei 2015
Pukul 20.00-22.00

Momod: Bu Rosiana
Nonot: bu farida

Narsum: Yuria Pratiwhi Cleopatra
Profil :Menikah dan dikaruniai 4 anak (17, 14, 13, 3) semuanya Homeschooling.
Pendidikan s1 ITB dan S2 ekonomi syariah UI

***

Bismillahirrohmaanirrohiim

Insya Allah yang saya sampaikan saat di pertemuan sekarang adalah materi terakhir dari rangkaian materi training pengelolaan keuangan keluarga.

Sebetulnya materi intinya bukan mengajar anak berbisnis, tetapi menanamkan jiwa wirausaha sejak dini. Tujuannya adalah melatih kemandirian sejak dini.

Jika kita mempelajari shirah Rasulullah, kita melihat bagaimana Rasul mengajarkan kita untuk mandiri sejak usia dini.

Rasul sudah mulai berdagang di usia 7 tahun. Ikut kafilah lintas negara di usia 9 tahun dan mengembangkan harta dagang khadijah di usia awal 20an.

Sebagai muslim, selayaknya kita menjelajahi Rasulullah dalam setiap aspek kehidupannya.Target minimal kita adalah menyiapkan anak-anak untuk bisa menjadi pribadi mandiri saat mencapai usia baligh.. Tidak terus menerus merepotkan dan menjadi beban kedua orangtuanya.

Saat ini banyak sekali angkatan kerja yang tidak mampu hidup mandiri..masih terus membebani ortunya. Sampi lulus kuliah s1, masih minta dana untuk kuliah s2.
Ada yang sudah menikah pun masih disuplai ortu.

Yang seperti itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat. Islam mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Itu yang ingin kita ajarkan pada anak-anak kita. Sejak dini kita pahamkan pada mereka bahwa uuntuk bisa memenuhi kebutuhan (dan keinginan) seseorang perlu bekerja, berusaha.

Anak kita latih untuk tidak suka meminta2 termasuk kepada mita ortunya.
Kewajiban kita memenuhi kebutuhan mereka. Sedangkan untuk menuhi keinginan, mereka harus berusaha dulu.✅

***

Diskusi

1. ummu ammar
Pertanyaan :upaya apa saja yang harus disosialisasikan keanak dalam menuangkan business plan nya, ketika anak telah memiliki passion dlm etrepreneur.jazakillah khoiran.

Jawaban:
O, putranya memberi pelatihan coding untuk anak-anak lainnya ya..Alhamdulillah..awal yang bagus sekali.
Untuk usia 7 tahun mungkin kita belum mengajarkan teknis perhitungan bisnis plan ya. Karena pemahaman matematika anak juga belum sampai. Sementara bisa dibantu ortunya dulu. Anak bisa diajarkan dengan cara yang paling sederhana yaitu mencatat cashflow.

Untuk beberapa bidang tertentu kita perlu bersabar. Tidak semua jenis usaha itu langsung diartikan memperoleh uang secara instan secara berdagang.

Ada kalanya anak perlu membangun skill dan komunitas. Memasukkan unsur bisnis di situ mungkin akan membuat suasana menjadi kaku dan skill anak sulit berkembang.

Kalau pengalaman saya dengan anak pertama dan teman2nya, terkadang membangun jaringan lebih didahulukan daripada mendapatkan uang. Diharapkan setelah jaringan terbentuk, uang dengan sendirinya akan datang.

Karakter bisnis seperti ini berbeda dengan berjualan.

Misalnya saat teman anak saya menawarkan situs salingsapa, itu diberikan gratis. Sementara anak melatih dan menanamkan skillnya. Kelak saat menjelang remaja dia akan memiliki skill lebih tinggi dibanding anak lain dan bisa memanfaatkannya untuk bisnis.

Kalau sekarang putra Ummu Amar suka melatih temannya, itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan skillnya. Kita bisa fasilitasi mereka dengan ilmu yang tidak mudah diduplikasi.
Mungkin bidangnya mirip dengan anak pertama saya Ummu, 17 tahun.
Sejak kecil abinya memberi pengajaran programming. Dia banyak melatih kemampuan programmingnya sambil mengajar teman2nya di situs stack over flow.

Disana juga dia bertukar wawasan dengan para remaja di negara2 maju.

Usia 16 tahun dia sudah bisa coding secara serius dan komprehensif, sehingga berpenghasilan dengan magang di konsultan.

*

2. Bu rosisna

Pertanyaan : selayakny sjk usia brp ank mulai dtnamkn jiwa wira usaha. syukron teh

Jawaban:
Anak bisa mulai ditanamkan jiwa usaha sejak usia tiga tahun. Terutama setelah dia mengenal transaksi (jajan/beli).

Kita bisa ajarkan tentang konsep membeli. Membelikan yang baik, membeli yang halal.
Juga tentang konsep milik dan usaha. Misalnya ya. Anak saya yang bungsu usia 3 tahun. Beberapa hari yang lalu dia ribut minta beli ‘minuman enak’ di warung. Rupanya dia melihat anak lain yang lebih besar jajan.

Dia lihat ada uang tergeletak di lemari. Tadinya akan dia ambil. Selama ini saya belum mengajarkan konsep uang. Jadi dia senang memasukkan uang ke dalam sakunya seperti orang besar..untuk bersenang2 saja.

Peristiwa minum enak itu memberi sinyal bahwa anak harus diajari konsep milik. Uang milik ummi tidak boleh diambil.

Minum enaknya tidak boleh dibeli tanpa seijin Ummi. Tidak beli sesuatu hanya karena ingin. Kalau Ummi lihat dia butuh tanpa diminta pun akan dibelikan.

Kurang lebih seperti itu awalnya. Saya tidak memberikan uang jajan pada semua anak saya sejak kecil.✅

*

3. Bu Putri
Pertanyaan :Teh, kalau kita memberlakukan syarat ketika anak meminta sesuatu, apakah boleh?
Kok saya melihatnya seperti jd pamrih ya ke anak? Takutnya ntar dia jd begitu jg ke kita.. ketika kita minta sesuatu, dia pamrih jg 😁
Bisa diterapkan pd usia berapa kah hal ini? Syarat dan ketentuan berlaku.

Jawaban :
Kita bisa memberi anak sesuatu dengan syarat dan ketentuan berlaku, untuk hal ekstra yang sifatnya keinginan dan hukumnya mubah.
Kalau kebutuhan mereka sih jangan dimanfaatkan. Misalnya : dikasih makan kalau sudah menyikat genteng. Itu tidak boleh. Tapi kalau kadang anak minta es krim.
Itu kan bukan kebutuhan. Boleh kita kasih syarat.
Mulai sejak mereka mengerti aja..hehehe.

*

4. Bu Vana
Pertanyaan : assalamualakum..nama ak vana.ak ga pinter dlm berdagang, pgn dagang tp kayany malu utk tawarin org, dan ga pede dg dagangan yg akan dtawarin tuh bakal laku. klo ak aja ga bs dagang dan berbisnis, apa bs ajarin anak dagang?

Jawaban :
Bunda Vana, bisnis itu kan tidak selalu harus berdagang. Seperti contoh Ummu Amar tadi.
Yang jelas kita memberikan bekal kepada anak-anak kita sehingga mereka siap untuk mandiri di usia baligh.

Kalau anak punya skill khusus atau satu kecenderungan, kita bisa fasilitasi agar bisa betul-betul berkembang.
Saya biasanya mengajarkan anak-anak untuk produktif. Kalau mereka ingin mempelajari sesuatu,harus jelas dulu tujuan dan kemanfaatannya. Dan apa pengaruhnya dalam produktivitas mereka kelak.

Mislanya ada anak ingin belajar fotografi. Dia harus menunjukkan bahwa dia memang minat fotografi. Mau menggali ilmu, tidak sekedar jekrak jekrek. Mau ikut komunitas, membuat tulisan, menghasilkan karya..
Sehingga jika Allah mentaqdirkan ortu meninggal dunia pun skill itu bisa dia manfaatkan untuk survive.✅

Pertanyaan lanjutan:
dlm artian qt hrs tw dl bakat dan minat anak dmn, stelah it bs jadikan keahliannya it bisnis?

Jawaban:
Jadi mbak Vana, mengajarkan jiwa wirausaha itu artinya kita mengajarkan mental mandiri. Kita juga mengajarkan mereka untuk berani, jujur, gigih, tidak mudah menyerah, sabar dan banyak sikap positif lain.

Mengapa malu berdagang? Bukankah 9 dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga itu adalah pedagang. Kita perlu mengajarkan malu pada anak dengan tepat.

Malu kalau bermaksiat, malu kalau meminta2, malu kalau berbuat dosa, malu kalau tidak mau berusaha. Mengajar bisnis memang tidak harus dengan cara berdagang (barang). Tapi jika mereka punya skill pun tetap saja mereka harus menjualnya.
Anak pintar main alat musik, agar bisa produktif tentu perlu marketing. Tidak bisa mengharap pencari bakat mengetuk rumah kita setiap hari. ✅

***

Penutup:

Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin

Mohon maaf yaa kalau ada yang kurang berkenan. Namanya seminar online jadi sangat terbatas 😁

Terima kasih atas perhatiannya. Mangga kalau ada yang mau jalan-jalan ke akun fesbuk saya Teh Patra. Di sana ada cerita bisnisnya anak-anak seperti jualan sosis premium, bisnis domba, reparasi alat elektronik, dll.

Saya mohon pamit yaa.. Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh✅

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *