Browse By

Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga Islami

Mengapa kita perlu mengatur keuangan keluarga? Pertanyaan ini menjadi pembuka acara Seminar Manajemen Keuangan “Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga Islami” yang diadakan HSMN Bekasi, Ahad 29 November 2015 di Islamic Centre, Bekasi.

Jawaban dari pertanyaan di atas langsung dijelaskan oleh Yuria Pratiwi Cleopatra atau biasa dipanggil dengan teh Patra sebagai pembicara dengan penjelasan yang singkat dan padat yaitu karena kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas dibanding dengan pendapatan yang diperoleh dalam hal ini penghasilan atau gaji. Kita perlu mengatur keuangan keluarga Karena di Islam harta itu adalah kunci kita akan ke syurga atau neraka. Orang yang tidak punya harta akan lenggang ke syurga, tapi bila auditnya tidak seimbang (balance) maka zakat kita tidak akan benar, warisan dapat salah dalam pembagiannya, apakah ada narta yg kita makan dari hak orang lain dan sebagainya, hal sangat penting karena ini yg akan ditanya diakhirat nanti.

Lebih jauh lagi Teh Patra menjelaskan bahwa harta itu sejatinya adalah milik Allah, maka namtinya harta itu pun akan diminta pertanggungjawaban dari mana didapatkan dan untuk apa saja dihabiskan. Karena itu ketika ada kasus bila seorang pengusaha muslim diberi penawaran pinjaman dari bank konvensional untuk mengembangkan usahanya dengan bunga yg sangat ringan sementara disaat yang bersamaan dia membandingkan dengan pinjaman yang diberikan oleh bank syariah ternyata jauh lebih tinggi marginnya, bagaimana seharusnya tindakan kita terhadap maslah ini? Bila kita sadar bahwa rizki kita sudah diatur oleh Allah maka kita tidak perlu takut untuk meninggalkan yang tidak disyariatkan dan menjalankan apa yang sudah disyariatkan karena apa yang sudah diatur oleh Allah maka keberkahanlah yang akan kita dapatkan. Karena itu tidak perlu membanding-bandingkan antara sistem perbankan konvensional dan syariah karena kita sebagai muslim seudah sepatutnya berpartisipasi menghidupkan sistem syariah tersebut dalam rangka menghindari mudharot yang lebih besar.

Dalam pendapatan keluarga, suamilah yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencari dan memberikan nafkah kepada isteri dan anaknya. Namun perlu dipahami bahwa Suami tidak berkewajiban memberikan seluruh hartanya kepada anak dan isterinya. Selama kebutuhan mereka tercukupi itulah yang menjadi kewajiban Suami. Sedangkan Isteri bertanggungjawab terhadap harta yang diberikan oleh Suami. Isteri memiliki kebebasan dan tanggung jawab atas keuangan pribadinya dan berhak mengatur sendiri hartanya. Dan bila Isteri bekerja maka harus mendapat ridho suami karena dengan itu artinya waktu yang seharusnya dipakai untuk mengurus rumah tangga dan sumi, ia pakai untuk bekerja mencari nafkah, karena itu suami berhak atas pendapatan isterinya tersebut. Namun Suami tidak boleh mengambil harta isterinya kecuali dengan cara yang baik. Dengan catatan harta yang dimiliki isteri tidak menjafikannya durhaka dan akhlaknya rusak sehingga rumah tangganya hancur. Banyak sekali kasus perceraian pasangan suami isteri terjadi karena masalah fiansial, untuk itulah dibutuhkan komunikasi dan komitmen yang baik oleh pasangan suami isteri ini tentang harta kepemilikan. Jangan sampai isteri menghalang-halangi Suami dalam memberikan nafkah kepada keluarganya terutama Ibunya. Dan Isteri pun harus selalu mensupport pekerjaan atau uadaha sumi untuk memajukan karier Suami.

Setiap kebutuhan primer suatu keluarga sangat berbeda-beda, bisa jadi kebutuhan rumah sangat dipenting di suatu keluarga dibandingkan keluarga lain, karena pengertian kebutuhan primer yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat yaitu: memelihara jiwa, akal, agama, keturunan dan kehotmatan keluarga. Sedangkan kebutuhan sekunder yaitu kebutuhan untuk memufahkan hidup agar jauh dari kesulitan, dan kebutuhan pelengkap adalah kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam hidup manusia. Diantara ketiga kebutuhan ini kita harus memprioritaskan dahulu apa yang sangat penting bukan kepada keinginan namun kebutuhan agar tidak jatuh kepada pemborosan dan hidup bermegah-megahan yang dilarang Allah SWT.

Dalam Seminar ini Teh Patra juga mempraktekkan bagaimana membuat pembukuan laporan keuangan dan rencana keuangan selama satu tahun berdasarkan penghasilan dan kebutuhan. Seminar diramaikan oleh pertanyaan-pertanyaan dati para peserta yang sangat antusian bertanya seputar investasi dan riba.

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

One thought on “Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga Islami”

  1. dinis sh says:

    Terimakasih telah berbagi ilmu 🙂 usul, gmn klo kerangka pembukuan keuangannya yg satu tahun itu d tampilkan juga d web ini.. hehe.. jujur saya penasaran 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *