Browse By

Kedudukan Wahyu Dalam Islam

Kulwap HSMN Medan (kamis, 7 Januari 2016 20.00-21.00  )

 

Kedudukan Wahyu dalam Islam

Oleh: Beta Andri (Abu Abbas)

 

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

 

Perkenalkan nama saya Beta Andri (Abu Abbas), saya PNS, saat ini bertugas di Pusdiklat KNPK dan mengajar akuntansi di STAN. Saya ayah dari 3 org anak: 11, 8 dan 4 thn. Dalam kesempatan ini saya akan membawakan tema Kedudukan Wahyu dalam Islam. Kedudukan Wahyu dalam Islam

 

Sebelum menyampaikan materi, saya ingin menyampaikan bahwa saya bukan ustadz atau ahli ilmu. Saya seorang muslim biasa, sama seperti bapak dan ibu (atau ibu2 semua ya?) di grup ini. Keinginan untuk berbagilah yang mendorong saya untuk memberanikan diri menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui seputar wahyu Allah subhaanahu wata’alaa kepada bapak dan ibu  sekalian.

 

 

Adapun, materi yang akan saya sampaikan, disusun dalam susunan sbb:

 

 

A. Apa itu wahyu dan mengapa manusia butuh kepada wahyu?

B. Wahyu Allah sampai kepada kita melalui dua jalan: Quran dan Sunnah

C. Kedudukan Akal dalam Islam

D. Metodologi Memahami Wahyu

 

 

Baik, mari kita masuk ke poin pertama.

A. Apa itu wahyu?

Meskipun ada beberapa definisi yang disebutkan Ulama tentang makna wahyu, walaupun dengan kalimat yang berbeda-beda namun hakekatnya sama.

 

Di antara definisi yang cukup mewakili adalah perkataan imam az-Zarqani rahimahullah: “Pemberitahuan Allâh kepada hamba pilihan-Nya akan semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, dengan cara rahasia dan tersembunyi, tidak biasa (terjadi) pada manusia.” [Manâhilul ‘Irfân, 1/63, karya az-Zarqani]

 

Mengapa manusia butuh kepada Wahyu?

Tanpa wahyu, manusia akan terjatuh dalam kesesatan. Tidak ada yang dapat selamat dari hakikat kehidupan dunia ini kecuali dengan wahyu. Bahkan Allah menyebut kondisi Nabi Muhammad sebelum mendapat wahyu adalah dalam kebingungan:

وَوَجَدَكَ ضَآلًّۭا فَهَدَىٰ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. QS Ad-Dhuha: 7.

 

 

Maka tidak berlebihan jika kita sering mendengar bahwa turunnya wahyu dan diutusnya Rasul-Rasul adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia, karena Ia tidak ingin kita hidup tanpa panduan. Allah tidak ingin kita jatuh dalam kesesatan yang berujung pada jatuh dalam kemurkaan Allah. Allah tidak membiarkan kita hidup tanpa diberi tahu apa sebenarnya tujuan hidup kita. Bahkan bentuk keadilan Allah adalah dengan menurunkan wahyu, yang dengannya Allah tegakkan hujjah bagi manusia sehingga Ia memberikan batas yang jelas siapa yang akan dirahmati-Nya dan siapa yang akan disiksa-Nya.

 

 

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

 

Maka perlu dipahami, “ketetapan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya” yang dimaksud pada ayat di atas adalah wahyu.

 

 

B. Wahyu Allah sampai kepada kita melalui dua jalan: Quran dan Sunnah

 

 

Allah ta’alaa berfirman:

وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah menurunkan al-Kitab dan al-Hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu”. [an-Nisâ`/4:113].

 

 

Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa Al-Hikmah yg dimaksud dalam ayat ini adalah as-Sunnah. (Tafsir Ibnu Katsir).

 

Kalau ayat di atas mungkin sudah sering dengar.. nah ayat berikut juga tidak kalah menarik…

 

Allah Ta’âla juga berfirman:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kamu (para istri Nabi) dari ayat-ayat Allah dan Hikmah (Sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha lembut lagi Maha mengetahui”. [al-Ahzâb/33:34].

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini: “Yaitu amalkanlah (wahai istri-istri Nabi) apa yang diturunkan Allah Tabaraka wa Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah-rumah kalian, yang berupa Al-Kitab dan as-Sunnah”.

 

Jadi istri2 Nabi diperintahkan Allah utk mengamalkan apa yg diturunkan Allah berupa Kitab dan Sunnah. Ibu2 sholihah tentu mencontoh ummahatul mukminin.

 

Oleh karena itu, Al-Qur`ân dan as-Sunnah merupakan dua perkara yang saling menyatu, tidak terpisah, dua yang saling mencocoki, tidak bertentangan.

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”.  (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

 

 

C. Kedudukan Akal dalam Islam

Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Hal itu dapat dilihat pada beberapa point berikut ini.

 

1. Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syari’at-Nya.

وَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ

“Dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 43)

 

 

2. Akal merupakan syarat menerima taklif (beban syari’at) dari Allah Ta’ala. Hukum-hukum syari’at tidak berlaku bagi orang yang tidak memiliki akal.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: [1] orang yang tidur sampai dia bangun, [2] anak kecil sampai mimpi basah (baligh) dan [3] orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

 

3. Allah Ta’ala mencela orang yang tidak menggunakan akalnya, semisal perkataan Allah pada penduduk neraka yang tidak mau menggunakan akal.

 

 

4. Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam Al Qur’an, yaitu untuk tadabbur dan tafakkur, seperti la’allakum tatafakkarun (mudah-mudahan kamu berfikir) atau afalaa ta’qilun (apakah kamu tidak berpikir).

Meskipun kedudukan akal yang sedemikian tinggi, ia tetap harus tunduk kepada wahyu.

 

Di antara bukti adanya titik lemah pada akal manusia, adalah adanya banyak hakekat yang tidak bisa dijelaskan olehnya, seperti: hakekat ruh, mimpi, jin, mukjizat, karamah, dan masih banyak lagi. Belum lagi, seringnya kita dapati adanya perubahan pada hasil penelitian akal; misalnya dahulu manusia berkesimpulan dunia ini datar, lalu muncul teori bulat, lalu muncul teori lonjong. Dahulu mengatakan minyak bumi adalah sumber energi tak terbarukan, lalu muncul teori sebaliknya. Dahulu mengatakan matahari mengitari bumi, lalu muncul teori sebaliknya, dan begitu seterusnya.

 

Oleh karenanya, Islam memberi ruang khusus bagi akal, ia hanya boleh menganalisa sesuatu yang masih dalam batasan jangkauannya, ia tidak boleh melewati batasan tersebut, kecuali dengan petunjuk nash-nash yang diwahyukan.

 

 

D. Metodologi Memahami Wahyu

Maka akal dengan segala keterbatasannya, butuh sebuah metodologi untuk memahami wahyu.

Cara memahami al-Kitab dan as-Sunnah ialah dengan mencari penjelasan yang berasal nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah itu sendiri. Karena yang paling mengetahui maksud suatu perkataan, hanyalah pemilik perkataan tersebut (Allah subhanaahu wa ta’alaa).

 

Para ulama menyebutkan kaidah di dalam memahami dan menafsirkan Alquran sebagai berikut:

Menafsirkan Alquran dengan Alquran

Menafsirkan Alquran dengan as-Sunnah

Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para sahabat

Menafsirkan Alquran dengan perkataan-perkataan para tabi’in

Menafsirkan Alquran dengan bahasa Alquran dan as-Sunnah, atau keumumam bahasa Arab

 

 

Kalimat berikut dikutip utuh dari Ibnu Katsir: “Adapun menafsirkan Alquran semata-mata hanya dengan pikiran (akal), maka (hukumnya) haram.” (Tafsir al-Qur`anul Azhim, Muqaddimah, 4-5).

 

Adakah Wahyu yang bertentangan?

Jika sumber Alquran dan Sunnah adalah kembali kepada Allah, tentu kita tidak akan menemukan kandungan yang bertentangan di dalamnya, baik antara ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, maupun hadits dengan hadits.

 

Allah berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ لْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ للَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ خْتِلَٰفًۭا كَثِيرًۭا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. Annissa: 82)

 

 

Meski ada ayat-ayat atau hadis-hadis yang dianggap bertentangan oleh sebagian orang, namun hal itu hanyalah persangkaan. Para ulama sudah mendudukan nash-nash tersebut pada tempatnya, sehingga tidak lagi bertentangan. Memang butuh extra effort untuk mencari penjelasan dalam hal2 yang seolah2 bertentangan, tapi sangat2 sepadan dengan ilmu yang akan kita dapat.

 

Misal:

Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu dia berkata, “Sesungguhnya, ibuku bernazar akan berhaji, tetapi dia belum berhaji sampai dia meninggal. Apakah aku (dapat) menghajikannya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu, jika ibumu menanggung utang, apakah engkau (dapat) membayar? Bayarlah (utang) kepada Allah, karena Allah lebih berhak terhadap pemenuhan (utang).” (H.R. Bukhari, no. 1852)

 

Apakah hadits di atas bertentangan dengan Quran:

“Dan sesungguhnya, seorang manusia hanya mendapatkan hasil yang telah diusahakannya.” (Q.S. An Najm:39)

 

 

Maka ulama telah menjelaskan dengan hadits berikut:

Dari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Anak seseorang itu termasuk jerih payah orang tersebut bahkan termasuk jerih payahnya yang paling bernilai, maka makanlah sebagian harta anak.” (HR. Abu Daud, no.3529 dan dinilai sahih oleh Al-Albani)

 

Karena mendidik anak termasuk jerih payah orang tua, maka amal yang dilakukan anak akan diganjar sebagai amal yang diusahakan orang tua.

 

 

Terakhir, rangkuman atas materi hari ini adalah:

1. Wahyu adalah pengabaran syariat dari Allah subhaanahu wa ta’alaa kepada manusia mengenai semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, sehingga manusia tidak jatuh dalam kemurkaan Allah.

2. Wahyu adalah pilihan terbaik Allah atas jalan hidup kita.

3. Quran dan Sunnah bersumber dari Allah.

4. Akal memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, digunakan untuk memahami wahyu.

5. Metodologi Memahami Wahyu telah diajarkan oleh Rasul, sahabat dan para ulama, yakni: quran, hadits, atsar sahabat, atsar tabiin, makna secara bahasa.

6. Tidak ada wahyu yang bertentangan, karena berasal dari sumber yang sama.

 

Pesan penutup, mendewakan akal/logika di atas wahyu, berpotensi membawa kita kepada sifat syaithon:

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. QS AL Araaf: 12

 

Sampai di sini dulu kebersamaan kita malam ini, mohon maaf atas segala kesalahan. Mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh

 

 

Sesi pertanyaan:

 

 

1. Santy

 

Assalamu’alaikum ustadz..

Di dalam Islam sudah jelas hukum alkohol adalah haram.

Ada temen yg menanyakan ttg tape, kenapa dihalalkan padahal ada fermentasinya. Kami sudah mencoba menjelaskan, namun bagi teman saya seakan belum diterima oleh akalnya.

Yang mau saya tanyakan, bagaimana kita menghadapi orang yg sepertinya mengutamakan akalnya dibanding wahyu Allah?

Terima kasih

 

 

Jawaban: Yang pertama, kita sbg umat Islam, tidak dibebani harus membuat orang beriman. Tetapi kewajiban kita adalah menyampaikan. Sepanjang kita sudah menempuh sebab-sebab seseorang bisa beriman dan beramal dgn baik, itu sudah pencapaian yang sangat bagus. Jadi, menghadapi orang yang mendahulukan akal, pertama, kita sampaikan bagaimana yang benar sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Lalu, jangan lupa doakan agar beliau mendapat hidayah. Demikian yang bisa saya respon dari masalah di atas.

 

 

2. Indria sari

 

Assalamualaikum abu abbas

Saya indri dgn 2 org anak yg pertama putri 7 yhn dan kedua 2 thn. Yg mau saya tanyakan abu mengenai keberadaan allah itu dimana,tgl dimana rupaya spt apa dan hal2 yg berhubungsn dgn allah itu gimana menjelaskannya pada anak2.

Anak2 kan berpikirnya konkrit ya abu sementara itukan di luar jangkauan kita. Terimah kasih abu.

 

 

Jawaban:

 

Waalaykumusalaam warahmatullahi wabarakaatuh. Anak bertanya ttg Allah itu tanda2 baik, insya Allah, karena ia ingin mengenal Rabb-nya. Menanggapi pertanyaan anak, maka tipsnya: jawab dengan jujur. Jangan menggunakan jawaban memutar/analogi. Allah ada di mana. Di langit. Di atas Arsy. Di atas langit ketujuh. Rupanya Allah, bahwa Allah tidak serupa dengan makhluknya. Manusia tidak bisa melihat Allah di dunia. Nanti di akhirat, orang2 beriman yang masuk surga akan dapat melihat Allah. Tunjukkan bahwa pengetahuan ttg hal itu didapat dari Al-Quran. Ttg Allah ada di langit, Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4, Al-Hadid: 4, Thaha 5.Ttg Allah akan dilihat di akhirat. QS Al-Qiyaamah:22-23, Yunus : 26, Al-Muthaffifin : 15, QS Qaaf:35.ini akan memberikan pelajaran kepada Anak, bahwa kita mengimani sifat ALlah dari kabar yang Allah beritahukan sendiri kepada kita, bukan ngarang. Mudah2an membantu dan selamat meneruskan jihad mendidik anak.

 

 

3. Bunda Afita

 

 

Assalamualaikum

Abu Abbas saya mau bertanya..bagaimana mngajarkan ttg Wahyu ini kpd anak2..dlm bahasa yg bisa mrk pahami..(Dimulai Dari USIA 5thn) sbgai bntuk ikhtiar ortu dlm menanamkan akidah yg benar kdlm diri anak2 agar kelak ketika anak2 beranjak dewasa mrk ttp memegang teguh akidah Islam yg benar..

Jzk khoir

 

 

jawaban:

 

Waalaykum salaam warahmatullahi wabarakaatuh.

 

Ada dua kesempatan cara mengajarkan agama kepada anak. Pertama, ketika mereka bertanya. Kedua, dalam suasana keakraban. Ketika anak bertanya, kita punya kesempatan menuntaskan penyampaian suatu ilmu kepada anak. Karena pada saat anak bertanya, dia memang sedang membutuhkan pemahaman. Sehingga ia mudah memahami. Kedua, dalam suasana akrab, kita bisa menyampaikan nasihat yang, insya Allah, sampai ke hati. Misalnya ketika ngobrol sebelum tidur. Ketika tebak2an. dst Ketiga, sampaikan sesuai perkembangan pemahamannya. Dan juga urut prioritasnya. Dimulai dari tauhid, lalu tata cara ibadah, dan halal-haram. Anak itu mesin fotokopi orang tuanya, jadi semua kebiasaan ortu akan ditiru anak, sadar maupun tidak. Selanin memberi contoh di rumah, memotivasi, jangan upa juga doakan anak2 kita agar menjadi anak yang sholih yang beriman.

 

4. Indria sari

 

Abu abbas , apakah semua wahyu allah itu bisa di gunakan atau di kaji melalui akal manusia atau ada yg tdk bisa di kaji melalui akal manusia.

Terimah kasih abu

 

Jawaban:

Wahyu Allah yang diturunkan utk digunakan oleh manusia, adalah hukum syariat.

Wahyu berupa kisah, tidak serta merta menjadi hukum syariat.

Salah satu sifat wahyu justru adalah tidak bisa dikaji oleh akal. Seperti, mengapa sholat menghadap Kabah, kenapa harus wudhu sebelum sholat, dst. Dalam hal ini, wahyu bersifat tauqifiyah (untuk diikuti/dijalankan).

Tidak bisa dikaji akal maksudnya adalah yang ruang lingkupnya seputar ibadah, berita ghaib, dll. Hal2 yang tauqifiyah.

Adapun pesan tauhid dalam wahyu Al-Quran dan As-SUnnah, mudah diterima akal. Dan sesuai fitrah manusia

 

 

Poin-poin penting ada di bagian penutup, yaitu rangkuman atas materi:

1. Wahyu adalah pengabaran syariat dari Allah subhaanahu wa ta’alaa kepada manusia mengenai semua perkara yang ingin Dia tunjukkan kepada hamba tersebut yang berupa hidayah dan ilmu, sehingga manusia tidak jatuh dalam kemurkaan Allah.

2. Wahyu adalah pilihan terbaik Allah atas jalan hidup kita.

3. Quran dan Sunnah bersumber dari Allah.

4. Akal memiliki kedudukan tinggi dalam Islam, digunakan untuk memahami wahyu.

5. Metodologi Memahami Wahyu telah diajarkan oleh Rasul, sahabat dan para ulama, yakni: quran, hadits, atsar sahabat, atsar tabiin, makna secara bahasa.

6. Tidak ada wahyu yang bertentangan, karena berasal dari sumber yang sama.

 

 

Serta, alasan kenapa kita mempelajari ini. Yaitu agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh Iblis. Mendewakan akal/logika di atas wahyu, berpotensi membawa kita kepada sifat syaithon:

“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. QS AL Araaf: 12

 

🌻🌺🌹🌻🌺🌹🌻🌺🌹🌻🌺🌹🌻🌺🌹

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *