Browse By

Tema Harian: Posisi Hadhinah

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

Ummahat, assalaamu’alaikum. Bagaimana kabar iman ummahat hari ini? Semoga selalu Allah beri kekuatan untuk menjalani hari-hari terbaik.

Pada hari rabu, 20 April 2016 ini kita akan bersama berdiskusi mengenai suatu posisi yang mungkin sangat dekat dengan banyak diantara kita, yaitu

๐ŸŒป Hadhinah ๐ŸŒป

Bagaimana posisi hadhinah dalam keluarga muslim? Bagaimana sikap yang proporsional terhadap mereka? Mari kita simak bersama tulisan di bawah ini.

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Jika kita membuka siroh Nabi, kita akan menjumpai seseorang bernama Ummu Aiman yang para ulama menyebutnya sebagai Hadhinah Rasulillah (Pengasuh Rasulullah). Dan nanti pun, dalam kehidupannya, Nabi juga ada orang-orang yang membantu. Demikian juga sebagian shahabat. Dan begitulah sebagian kita hari ini.

Sehingga seharusnya, tak bisa kita abaikan keberadaan mereka sebagai seseorang yang pasti sedikit atau banyak akan memberikan pengaruh positif atau sebaliknya. Maka sudah seharusnya kita bertanya kepada Nabi, bagaimana bersikap terhadap mereka.

Ummu Aiman pengasuh yang mengasuh Nabi sejak kecil. Sampai Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjadi Nabi, Ummu Aiman masih terus mendampingi Nabi dan menjadi wanita yang beriman. Wanita asli Habasyah ini sangat dimuliakan oleh Nabi. Nabi memanggil wanita yang bernama asli Barokah ini dengan sebutan, โ€œIbu.โ€ Suatu kali Nabi menyebutnya, โ€œIbuku setelah ibuku.โ€ Kalau Nabi melihatnya, Nabi berkata, โ€œDia adalah sisa keluargaku (yang masih hidup).โ€ Bahkan Nabi bertanggung jawab mengurus keluarganya. Ketika suami Ummu Aiman meninggal dan meninggalkan anak yang bernama Aiman, Nabi mengumumkan kepada para sahabat, โ€œSiapa yang mau menikahi ahli surga maka nikahilah Ummu Aiman.โ€ Dan Ummu Aiman pun menikah dengan putra angkat Nabi, Zaid bin Haritsah dan kelak melahirkan panglima termuda nan hebat; Usamah bin Zaid. Radhiallahu anhum ajmaโ€™in.

Begitulah, Nabi menganggap Hadhinah nya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan beliau. Bahkan dianggap sebagai salah satu ibunya. Ibu yang mengasuhnya. Nabi memasukkannya sebagai bagian dari ahlul bait beliau. Bahkan Nabi bertanggung jawab terhadap kebutuhan dalam hidupnya. Beliaulah yang menikahkan Ummu Aiman dengan Zaid bin Haritsah yang merupakan keluarga mujahid.

Dari sinilah, Nabi memberikan panduan penting,

ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆุฑู ุจู’ู†ู ุณููˆูŽูŠู’ุฏูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽุจูŽุง ุฐูŽุฑูู‘ ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุญูู„ูŽู‘ุฉูŒุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุบูู„ูŽุงู…ูู‡ู ู…ูุซู’ู„ูู‡ูŽุงุŒ ููŽุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุณูŽุงุจูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‡ู’ุฏู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ููŽุนูŽูŠูŽู‘ุฑูŽู‡ู ุจูุฃูู…ูู‘ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ููŽุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒ ููŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตูŽู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ: ยซุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ุงู…ู’ุฑูุคูŒ ูููŠูƒูŽ ุฌูŽุงู‡ูู„ููŠูŽู‘ุฉูŒุŒ ุฅูุฎู’ูˆูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽุฎูŽูˆูŽู„ููƒูู…ู’ุŒ ุฌูŽุนูŽู„ูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุชูŽุญู’ุชูŽ ุฃูŽูŠู’ุฏููŠูƒูู…ู’ุŒ ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุฎููˆู‡ู ุชูŽุญู’ุชูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูุŒ ููŽู„ู’ูŠูุทู’ุนูู…ู’ู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ูุŒ ูˆูŽู„ู’ูŠูู„ู’ุจูุณู’ู‡ู ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽู„ู’ุจูŽุณูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชููƒูŽู„ูู‘ูููˆู‡ูู…ู’ ู…ูŽุง ูŠูŽุบู’ู„ูุจูู‡ูู…ู’ุŒ ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽู„ูŽู‘ูู’ุชูู…ููˆู‡ูู…ู’ ููŽุฃูŽุนููŠู†ููˆู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูยปุฎ ู…

Dari Al Maโ€™rur bin Suwaid berkata: Aku melihat Abu Dzar memakai pakaian bagus dan pembantu (laki-laki) nya pun memakai yang sama. Aku bertanya tentang hal itu. Diceritakan bahwa Abu Dzar pernah mencaci seseorang di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mencaci ibunya juga. Orang itu datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata (kepada Abu Dzar): Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang masih memiliki sifat jahiliyyah. Saudaramu yang Allah jadikan ada di bawah tanganmu. Barangsiapa yang saudaranya ada di bawah tangannya, maka berilah ia makan seperti ia makan. Berilah ia pakaian seperti ia berpakaian dan jangan membebani pekerjaan yang tidak sanggup ia lakukan. Jika kamu membebaninya, maka bantulah ia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Andai keluarga muslim mengetahui kewajiban mereka terhadap orang lain yang hidup bersama di rumah mereka, seperti dalam hadits Nabi di atas. Maka akan terjadi hubungan yang sangat baik dan saling menguntungkan. Keluarga dibantu dalam banyak tugas dan pekerjaan. Sementara mereka yang membantu pekerjaan merasakan kenyamanan seperti hidup dalam keluarganya sendiri.

Ada 5 tugas dalam hadits ini yang harus diberikan kepada hadhinah dan siapapun yang membantu kehidupan rumah kita:

1โƒฃ Dia saudaramu yang hidup di bawah tanganmu. Kalimat ini merupakan pengingat bahwa kita harus menganggapnya sebagai saudara kita. Dan Allah amanahkan ke dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kehidupan akan tetap berjalan dengan baik, tak ada perlakukan dzalim. Karena mereka saudara kita. Hanya saja masing-masing mempunyai tugas yang berbeda.

2โƒฃ Berilah ia makan seperti kamu makan.

3โƒฃ Berilah ia pakaian seperti kamu berpakaian. Lihatlah Nabi sampai menyetarakan masalah makan dan berpakaian. Agar keluarga muslim tahu bahwa yang hidup bersama kita, berhak merasakan kemuliaan kehidupan kita. Inilah yang membuat Abu Dzar memilih untuk memberi pakaian yang sama bagusnya kepada orang yang membantunya.

4โƒฃ Jangan membebani pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan. Menggaji mereka bukan berarti mendzalimi mereka. Kita harus mengukur kemampuan fisiknya. Dan jangan memberi tugas melebihi kekuatannya.

5โƒฃ Jika perkerjaan berat, maka bantulah ia. Baik dengan kita langsung yang ikut membantu. Atau melibatkan orang lain untuk membantunya.

Dan yang juga sangat penting dari tugas keluarga terhadap hadhinah dan siapapun yang membantu kita seperti dalam kisah Ummu Aiman adalah membimbing kesholehan mereka. Karena mereka hidup bersama anak-anak kita. Jika hadhinah nya orang berilmu dan sholeh, tentu kita nyaman sesekali meninggalkan anak-anak bersama mereka.

Sungguh mulia ajaran Rasulullah. Tak ada bab yang ditinggalkan. Semua dijelaskan dan ditunjukkan.

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

Sumber :

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel–keluarga/untuk-keluarga-parenting-nabawiyah/160-hadhinah
ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ
๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†hsmn๐Ÿ”†๐Ÿ”…๐Ÿ”†๐Ÿ”…
ใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐใ€ฐ
๐Ÿ‘ฅfacebook.com/hsmuslimnusantara
๐Ÿ‘ฅFB: HSMuslimNusantara Pusat
๐Ÿ“ท instagram: @hsmuslimnusantara
๐Ÿค twitter: @hs_muslim_n
๐ŸŒ web:
hsmuslimnusantara.org

๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

MaasyaAllah, betapa sempurnanya agama kita hingga bab hadhinah pun dibahas didalamnya.

Yuk.. kita turut berdiskusi dan saling mengingatkan Bunda. Bagaimanakah interaksi yang terbentuk antara kita dan para “pengasuh” ananda?

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *