Browse By

Sosialisasi Bagi Anak Homeschooling

Saat mengatakan kami Homeschooling (HS), mungkin sebagian orang akan membayangkan bahwa kami berada di dalam rumah saja seharian. Bagaimana pergaulannya, sosialisasinya? Saya akan mengutip tulisan teman saya, Nadya Widjanarko, seorang sosiolog UI:

Sosialisasi dibagi menjadi dua, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Sosialisasi primer terjadi dalam keluarga, sedangkan sosialisasi sekunder terjadi apabila individu terjun ke masyarakat. Peter L. Beger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat, yang dalam hal ini adalah keluarga. Adapun sosialisasi sekunder adalah ketika individu tersebut mulai keluar dan membaur ke masyarakat yang lebih luas. Biasanya sosialisasi sekunder dimulai ketika seorang anak memasuki masa sekolah.

Nah, terkait dengan masa sekolah sebagai masa sosialisasi sekunder inilah banyak orang yang khawatir terhadap efek homeschooling terhadap kemampuan bersosialisasi anak. Jadi, mari kita telaah satu per satu.

Mengutip pada teori sosialisasi Berger dan Luckmann, sosialisasi primer adalah sosialisasi yang pertama kali dialami individu. Pada sosialisasi primer ini, seorang anak akan bersosialisasi dengan orang-orang yang lebih tua. Seorang bayi yang baru lahir akan bersosialisasi dengan orang tuanya, kakaknya, kakek dan neneknya, paman dan bibinya, pakde dan budenya, ibu-ibu tetangga rombongan Arsawon alias Arisan Selasa Kliwon (loh??), dan BUKAN dengan sesama bayi yang baru lahir. Dia akan mulai bersosialisasi dengan teman-teman sebanyanya yang seumuran dan seangkatan (dan mungkin memiliki tanggal kelahiran sama) adalah ketika masuk sekolah. Selepas sekolah, ia akan kembali berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda generasi. Ketika memasuki dunia kerja, orang-orang yang ditemuinya bukanlah orang-orang yang sebaya, seangkatan, seumuran, apalagi sama tanggal lahirnya, tetapi orang-orang yang beda generasi. Ia akan bertemu dengan senior-senior yang sudah seumuran dengan kakaknya, om dan tantenya, bahkan orang tuanya, atau bahkan lebih tua dari orang tuanya. Bahkan di bangku kuliah pun orang sudah berinteraksi dengan orang-orang yang lintas generasi. Satu angkatan bisa beda tahun lulus, satu kelas pun bisa bareng senior atau junior. Nah, jika dalam kehidupan nyata seseorang akan lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang dengan latar belakang berbeda umur dan generasi, maka apakah masa sosialisasi di sekolah di mana anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang sebaya, seumuran, dan seangkatan menjadi sangat penting dan hukumnya wajib untuk dilalui? *mari dipikirkan*

Sekolah sebagai sarana bersosialisasi. Maka logikanya lulusan-lulusan sekolah umum akan tumbuh menjadi orang-orang yang pandai bergaul, banyak teman, banyak jaringan, pintar berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Nyatanya, banyak juga loh anak-anak sekolah umum yang pendiam, pemalu, sulit berkomuniasi, bahkan kuper. Saya punya kenalan yang saya cukup kenal anaknya (saya cukup sering berinteraksi dengan anak tersebut). Waktu itu si anak belum masuk sekolah. Anak tersebut tersebut sikapnya sangat lincah, bawel, ceria, nggratak, pokoknya khas anak-anak deh. Beberapa tahun tidak bertemu, saya bertemu lagi ketika anak itu sudah masuk sekolah. Eh, lha kok sikapnya malah jadi pendiam? Kata teman saya, itu karena di sekolah ia bertemu dengan anak lain yang lebih nakal. Waduh??? *next*

Jadi, benarkah sekolah merupakan sarana bersosialisasi? Kalau boleh jujur – ini juga berkaca dari pengalaman pribadi selama di sekolah – ketimbang sosialisasi, yang terjadi dalam sekolah adalah peer pressure. Anak “disosialisasikan” untuk berperilaku seragam. Misalnya, ada grup musik “X” yang sedang populer. Semua membicarakan grup musik “X”. Kalau sampai ada anak yang tidak tahu atau tidak suka, akan dicap kuper. Jadi anak mau tidak mau harus ikut menyukai grup musik “X” jika ingin diterima dalam pergaulan. Masih mending kalau hanya urusan selera. Lah kalau yang terjadi adalah anak harus ikut genk sekolah; harus dipelonco dulu sampai tulangnya patah-patah, baru diterima dalam pergaulan? Nah, “sosialisasi” seperti ini perlu tidak?*tanya tetangga sebelah*

Di sekolah konon anak akan belajar untuk berinteraksi dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan berbeda. Konon, ya….karena kenyataannya, bukankah di sekolah yang terjadi adalah genk-genk-an? Ada genk anak gaul, ada genk anak nongkrong, ada genk tukang belajar, dan sebagainya. Genk anak gaul yang hobinya nongkrong di cafe sepulang sekolah, bawa mobil ke sekolah (meski belum punya SIM), pakaiannya modis dan bermerk, mau tidak menerima anak kampung dari keluarga miskin dengan pakaian seadanya untuk bergabung ke dalam genk mereka? *beli tas Deuter dulu 😛

Jadi, apakah benar sekolah umum adalah sebagai satu-satunya sarana sosialisasi bagi anak? Mungkin akan lebih valid jika orang tua yang melaksanakan homeschooling untuk anak-anaknya ikut berbagi cerita, khususnya terkait dengan isu kemampuan bersosialisasi anak.
Tentu saja bukan berarti saya anti dengan sekolah umum. Namun di sini kita perlu menggali lebih jauh mengenai alternatif pendidikan bagi anak. Jangan terpaku hanya pada satu pilihan. Toh pada akhirnya semua adalah demi anak; demi pendidikan yang berkualitas bagi anak. Cari dan gali informasi yang lebih lengkap dan dalam sehingga kita memperoleh informasi yang valid dan tidak terjebak dalam mitos “katanya”. Menutup hasil wawancara penulis dengan Nadia Wijdanarko seorang sosiolog UI.

Ditulis oleh Maya Dwilestari, praktisi HS

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *