Browse By

Cuplikan Kisah Seputar Mendidik Anak Tak Sekedar Cukup Mengukir Di Atas Batu

Suatu hari saya dan suami kompak terbaring sakit. Tiba-tiba tidur saya terusik dengan seorang anak 2.5 tahun keluar dari kamar mandi. Ia sibuk mengelap wajah dan tangannya dengan handuk sendiri. “Fatih lagi apa?” tanya saya setengah teler. “Aku wudu, aku mau choat (shalat)” jawabnya sambil merapihkan handuk. Saya melihat jam dinding, masih 15 menit menuju adzan ashar. Kemudian menyusul satu-persatu kakaknya mengambil air wudhu dan meninggalkan proyek lego mereka. Mereka sibuk berencana, ingin tiba di mesjid sebelum adzan. Bergegas semua anak mengambil sepeda kecuali Fatih. “Teteh, adek pengen ikut tapi bapak masih tidur karena sakit. Bisa adek di ajak?” Pinta saya pada Shafiyah. “But I don’t want to be late. We have a plan that we want to go to mesjid before adzan” jawabnya. Tak lama setelah itu kudengar tangisan Fatih “Aku mau ikut….aku mau ikut”. Ia pun kembali ke dalam dengan menangis karena ditinggal.

Saya membujuknya untuk shalat di rumah, karena sang ayah masih terlelap tidur. “Mana baju choat aku?” Tanyanya. Saya lihat bajunya basah karena wudhu, lalu saya ganti dengan baju koko untuk shalat. Ia pun berlari dan berteriak membangunkan sang ayah. Sayangnya ayahnya tak juga terbangun. Kemudian adzan berkumandang, saya membujuknya untuk shalat di rumah bersama saya. Saya sudah berusaha membangunkan suami yang sedang sakit. Namun nampaknya sakit kepala membuat beliau sulit terbangun.

“Aku mau pelgi cendili aja!!” Kata bocah berumur 2.5 tahun setelah selesai dipakaikan baju koko. Sang ayah ternyata mendengar, beliau terusik karena mendengar suara adzan. Melihat balitanya jalan sendiri keluar rumah, dengan suara serak beliau pun berkata “ayo kita ke mesjid tapi pakai mobil ya, gak kuat!” Berangkatlah mereka berdua ke mesjid. Sepulang shalat sang balita berkata “cam ikum (assalamualaikum), aku dah choat!”

Semua orang tua yang memiliki anak banyak mungkin sama-sama merasakan bahwa mengajarkan kebiasaan baik untuk anak-anak selanjutnya sangat terbantu dengan contoh-contoh yang dilakukan oleh anak-anak sebelumnya. Sebaliknya meluruskan perilaku buruk seorang anak juga kadang lebih sulit jika sudah terlanjur diberi contoh buruk oleh anak-anak sebelumnya. Maka menaruh perhatian besar untuk menjadikan kakak sebagai role model sangat membantu dalam proses pendidikan anak-anak selanjutnya.

Pembiasaan shalat untuk anak pertama jauh membutuhkan usaha di banding adik-adiknya. Apalagi pembiasaan shalat di awal waktu dan berjamaah di masjid. Salah satu penyebab dulu Aa Ali tidak mau shalat di mesjid jika tidak ada teman. Sehingga biasanya ia hanya ikut shalat berjamaah saat sang ayah sudah pulang bekerja. Alhamdulillah karena kini sang ayah bekerja sebagai pengusaha di rumah, pembiasaan shalat di mesjid kepada anak semakin lebih mudah

Dalam mencapai sebuah standar kompetensi pendidikan di dalam keluarga kami, kami percaya bahwa metode yang dilakukan tidak cukup hanya sekedar mempelajari teori di dalam kelas. Ada beberapa metode lain yang perlu kamk upayakan agar standar kompetensi tersebut dapat kamk capai, diantaranya:
1. Pendidikan melalui kurikulum sistematis
2. Pendidikan melalui nasihat
3. Pendidikan melalui keteladanan
4. Pendidikan melalui kisah teladan
5. Pendidikan melalui penggalian hikmah
6. Pendidikan melalui hukuman
7. Pendidikan melalui penjagaan kesucian fitrah
8. Pendidikan melalui pelatihan dan pembiasaan
9. Pendidikan melalui tarbiyah langsung dari Allah (learning by taqdir)
10. Pendidikan melalui pemberian amanah dan tanggung jawab

Sebagai contoh, anak-anak yang bersekolah di sekolah islam pasti mendapat pelajaran tentang shalat. Namun beberapa diantara mereka ada yang belum dapat berkomitmen dalam melaksanakan shalat. Bisa jadi karena hanya satu metode pendidikan yang dijalankan, yaitu pendidikan melalui kurikulim sistematis. Tidak ada yang melatih, tidak ada yang membiasakan atau mungkin tidak ada keteladanan di dalam keluarga. Tidak ada proses pemahaman yang membuat anak mau melakukan ibadah karena kecintaan kepada Allah.

Lalu apakah pembiasaan dan pelatihan yang dilakukan dengan cara memberi keteladanan seperti apa yang didapat oleh Fatih sudah cukup? Tentu tidak, perlu ada upaya susulan saat usianya semakin besar. Perlu ada pendidikan melalui kisah teladan dan penggalian hikmah yang membuat rasa cinta seorang anak akan ibadah bertambah sehingga ia melakukan suatu ibadah sebagai buah dari keimanannya. Bahkan karena pentingnya shalat, pendidikan shalat melalui hukuman berlaku di dalam islam sejak usia 10 tahun.

Lalu apakah kita merasa anak-anak yang berkomitmen dalam shalat sudah tentu akan berperilaku baik? Nyatanya tidak! Banyak diantara kita yang rajin shalat namun shalat kita belum mampu mencegah diri dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sebagai contoh saya memiliki seorang kenalan. Anak ini belajar agama setiap hari. Ia bersekolah di sekolah islam. Ia mendapat keteladanan tentang shalat di mesjid dari keluarganya. Maka ia pun rajin sekali shalat di mesjid hampir setiap waktu. Namun saya dikagetkan dengan berita bahwa ia melakukan sodomi kepada temannya. Semua orang yang mendengarnya pasti terperanjat kaget, apalagi orang tuanya yang notabene merupakan aktifis dakwah. Setelah dipelajari, anak ini terbawa pergaulan teman-teman yang sangat menggandrungi warnet. Ayah dan ibunya bekerja, ayahnya sangat keras dalam mendidiknya. Merasa tidak mendapat cinta dalam keluarga maka ia menjadi lebih dekat kepada teman-temannya. Karena keseringan menonton film porno, ia tidak dapat menguasai diri untuk menahan hasratnya. Ini salah satu contoh kasus dimana saat berbagai metode pendidikan dijalankan namun pendidikan melalui penjagaan kesucian fitrah tidak bekerja akibat kehilangan kontrol dari orang tua.

Di dunia ini ada sekelompok orang tua yang sedang bersedih karena sampai usia besar anak-anak mereka belum bersedia untuk melaksanakan shalat. Namun dengan keistiqomahan memberi nasihat dan memanjatkan doa, ada banyak orang yang justru mendapat hidayah setelah mereka dewasa. Seorang kerabat yang sudah tua pernah bercerita bahwa selama berpuluh-puluh tahun mereka tidak pernah shalat. Sampai suatu ketika Allah menyelamatkan mereka dari kecelakaan mobil yang hampir merengut nyawa, saat itulah hidayah Allah menyapa. Beliau dan istri berterimakasih kepada Allah dan semenjak itu pula mereka mulai shalat. Bahkan kemudia sang istri berhijan dan mereka menunaikan ibadah umroh dan berhaji. Ini salah satu contoh pendidikan melalui tarbiyah langsung dari Allah.

Pendidikan yang dilakukan sejak kecil memang akan membekas lebih dalam. Ibarat seperti mengukir di atas batu, pendidikan sejak kecil cenderung membekas secara konsisten. Namun kita perlu ingat bahwa ukiran diatas batu sedikit demi sedikit pun bis menghilang jika tergerus air secara terus menerus. Ada banyak contoh disekitar kita, dimana para remaja dan orang dewasa semakin jauh dari Allah dan terjerumus dalam pergaulan padahal di waktu kecil mereka taat beribadah. Ini mejadi contoh bahwa pendidikan ya g kita lakukan tidak cukup sekedar mengukir di atas batu. Harus ada upaya agar tidak ada tetesan atau aliran air yang secara kosisten akan menghapus dah merubahnya. Semoga kita diberikan kemudahan oleh Allah untuk senantiasa istiqomah melakukan pendidikan kepada anak-anak seumur hidup. Semoga Allah juga menjaga keluarga kita agar senantiasa istiqomah di jalan Allah.

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang ibu yang sedang berjuang untuk berkomitmen dalam islam dan mengajak keluarganya untuk sama-sama melakukannya
Kiki Barkiah

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *