Browse By

Sebuah Renungan (bag.2)

#homeschoolingmuslim

๐ŸŒŸ๐ŸŒŸBagian 2๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ

Oleh : ๐ŸŒบ Dyah Wulandhari, Kadiv. Pendidikan Yayasan Generasi Juara ๐ŸŒบ

Memfasilitasi pendidikan yang sesuai dengan karakter anak sesungguhnya adalah investasi awal berharga bagi kehidupannya di masa depan. Membantu mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri tanpa terkungkung oleh cita-cita klasik berupa dokter – guru – atau insinyur adalah modal utama bagi mereka untuk mempercayai kemampuannya sendiri.
Tentu kita semua berharap, kelak anak-anak bisa mandiri dan mampu mempersembahkan mahkota kemuliaan bagi kita orangtuanya, tapi langkah besar pertama adalah, “kita harus rela” memberi ruang bagi mereka untuk menemukan aktivitas yang renyah dan mengasyikkan. Karena belajar sejatinya adalah perkara jangka panjang. Jika kita mengikuti kultur yang menganggap sukses dinilai dari deret A atau angka 100 di atas kertas namun anak kosong pada penghayatan dan keterampilan, dimanakah lagi kita akan mencari jiwa anak yang mungkin terhempas di kursi-kursi dingin bertembok seragam?

Kesenangan anak pada bola, atau hobi mereka berbicara, bermain teka-teki, bertukar prangko, atau mencorat-coret dinding masih dianggap sesuatu yang mengganggu dan bukannya mendapatkan apresiasi. Masa depan mereka dipersempit melalui konsep bahwa belajar adalah duduk-diam-dengarkan. Kita lupa bahwa reaksi pertama kita pada pertanyaan atau pendapat mereka bisa jadi pembunuh cita-cita mereka yang sebenarnya.

1. Apa yang berbeda dari homeschooling?
2. Mengapa harus homeschooling?
3. Bagaimanakah legalitas homeschooling?
4. Bagaimana untuk memulai homeschooling?

Semuanya akan terjawab pada bagian selanjutnya.

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *