Browse By

Ayah Bunda kompak, Modal Utama dalam ber-HS


Kulwap HSMN DEPOK

————————–
Narasumber:
✍🏻Nama: Putri Ramdhani Catur Setyorini
TTL: Balikpapan, 3 Juli 1981
Alamat: Perum Pesona Telaga Cibinong, Kab. Bogor
Pendidikan terakhir: S1 Teknologi Pangan UNPAD
Nama suami: Nuke Pratama (42 th). S2 Mechatronic FH Ravensburg Weingarten.
Nama anak:
1. Radhiyan Muhammad Hisan, 14 thn (HS)
2. Asma Wafa Ahdina, 8 thn (Sekolah Komunitas Kebon Maen Cilangkap Depok)
3. Hikma Shabrina Putri, 5 thn (belum sekolah)
Aktivitas utama: ibu rumah tangga. Kalau sampingannya banyak, multifungsi πŸ˜„
————————–

πŸ’™ *Ayah Bunda kompak, Modal Utama dalam ber-HS*

Kompak bukan berarti selalu se-iya, se-kata.
Kompak juga bukan berarti kemana pun selalu bersama.
Kompak juga bukan berarti tidak pernah berkonflik.

Kompak adalah proses…
Saling menerima
Saling memberi
Saling memahami
Saling membantu
Saling mengisi kekurangan
Saling mengapresiasi kelebihan

Bahkan bisa jadi, kompak memerlukan menguras seluruh kesabaran dan air mata yang kita punya (lebay ini mah… 😁)

*Kenapa harus kompak?*

Karena:

1. Anak berdua. Bukan anak emak, atau anak bapak saja.

2. Di dalam AQ, cerita tentang ayah-anak (Ibrahim-Ismail, Luqman-anaknya, Imran-anaknya) lebih banyak daripd ibu-anak (Maryam-Isa).

3. Ayah sebagai kepala keluarga. Arah pembentukan anak adalah tanggung jawabnya.

4. Butuh kerjasama yang baik antara ayah dan ibu dalam melaksanakan HS.

*Bagaimana bisa kompak?*

Kuncinya adalah komunikasi. Dan pendekatan hati, lewat doa.

*Butuh waktu berapa lama agar bisa kompak?*

Selamanya…

*Sesi Tanya jawab*

*Pertanyaan 1:*

#tanyanarsum
Kalau boleh, saya mohon penjabarannya. Seperti apakah manifestasi dari kekompakan antara ayah bunda dalam menjalankan HS? Pembagian peran teknisnya seperti apa?
-Bunda Hestya, ibu dari satu anak bernama Fatih (2y 7mo)-

*Jawaban :*
Idealnya, dari sebelum memiliki anak, calon ayah&ibu harus sudah punya ide tentang bagaimana pola didik dan asuh anak2nya. Sehingga bisa di breakdown perencanaan terkait itu.

Hanya saja, kadang teori tak semudah kenyataan. Boro2 soal pola asuh-didik anak, soal kebiasaan2 sehari2 pun, belum terpecahkan (sampai bertahun2 😁)
Pun dengan HS, Idealnya dari sebelum menjalankan, sudah bisa bersatu ide2 yang ada. Tapi kan, tak ada yang sempurna…

Mulai dari mengambil keputusan ber-HS, Bun… Karena HS ini kan tidak biasa. Out of the box. Jadi masalah yang timbul akibat HS ini harus diatasi bersama. Kalau ayah-ibu tidak kompak, kasihan ke anaknya.
Masalah pertama, pandangan keluarga besar, dan lingkungan sekitar. Ini kalau ga kompak mengatasi, bisa jadi sumber perselisihan baru bagi pasutri.
Kedua, masalah teknis. Siapa mengajar apa, siapa pegang anak yang mana, soal matpel, kurikulum, dsb, dll. Kalau soal teknis, di kami, diambil sersan aja… serius santai
Untuk matpel UN: Fisika, Math, BHS.Inggris, BHS.Jerman –> Pak Nuke
Bio, Indo, IPS –> saya
Kimia –> tantenya

Pelajaran inti:
Pemrograman –> Pak Nuke
Tahfidz –> berdua, setoran ke Ustadz tahfidz

Ketangkasan:
Sepeda&renang –> Hisan mandiri
Panahan –> ikut club dengan Coach Ferry

*Pertanyaan 2*
#tanyanarsum
ketika seorang ayah masih meragukan HS apa yang harus dilakukan? -Hanny-

*Jawaban:*
Coba ajak ayah untuk berinteraksi dengan keluarga lain yang ber-HS juga. Ajak untuk diskusi dan tukar pikiran. Sambil memperbaiki visi misi keluarga kita (lagi). Sama Bun, kami pun tidak langsung sepakat.
Wacana tentang HS, ada sejak Hisan masih TK. Saya beli bukunya Marry Griffith. Judulnya, Belajar Tanpa Sekolah. Ide itu dari awal sudah di kepala saya. Tapi, suami baru mau mengenal konsep itu ketika Hisan kelas 5 SD 😁

HS disini, saya bicara tentang sekolah formal ya… yang mulai dari usia 7 th. Pendidikan dasar yang dicanangkan pemerintah.
Kalau pendidikan anak, alhamdulillah, suami dari awal ga banyak membantu, alias terlalu percaya penuh ke istrinya… πŸ˜‚ antara bahagia, dan miris, dan ya… gado2 lah rasanya 😭
Dan kami baru bersepakat mau ber-HS ya ketika Hisan keluar dari pesantren. Dan mau sekolah di rumah saja. Jadiii … ada unsur keterpaksaan juga sih 😌 Intinya, berikan suami informasi yang beliau butuhkan. Dan juga yang kita inginkan.
Saya sudah bilang di atas πŸ‘†πŸ»kuncinyaaa… komunikasi. Tentu harus punya ilmu berkomunikasi juga dengan suami ya Bun… harus tau, kapan memulai pembicaraan, suasana hati, kondisi suami, dsb dll βœ…

*Pertanyaan 3*
Bagaimana menghadapi kendala jenjang usia anak2 dengan penerapan metode HS dirumah? -Bunda Aan-

*Jawaban :*
Kalau dari pengalaman kami, Adik2 bisa dilibatkan dalam proses KBM Hisan.
Misalkan:
Tahfidz –> jadi agenda bersama. Ortu dan anak2 bisa terlibat.
Pemrograman –> Wafa bisa dikasih tugas mengetik 10 jari dengan program kalauavaro. Hikma hanya hadir, dan mendengarkan. Wafa dan Hikma bisa belajar merakit model robot. Atau model2 lainnya. Selebihnya, ada aktivitas masing2 sesuai kesukaan tiap anak.
Kalau Pak Nuke sedang mengajar matpel UN, saya dampingi Hikma mewarnai, menggunting, menempel, dsb. Sebaliknya begitu.
Kalau saya sedang di Bekasi untuk kerja. Pak Nuke yang mendampingi anak2.
Kadang, saya mengajari Hisan sambil mangku Hikma, atau sambil mendampingi Wafa buat komik, menggambar, dsb. Dibuat asik aja Bun… jangan terlalu kaku juga ke anak2… sersan –> serius santai 😊
Menurut kami, jenjang usia tidak masalah. Santai aja, jangan terlalu menuntut sempurna juga ☺
Kadang emak2 itu gitu ya… pengen anak2 bisa a, b, c dst di usia bla, bla, bla… rumah tetap rapi, kerjaan rumah beres, masakan sempurna (4 sehat 5 sempurna), setrikaan rapi… heheheheee
Kita bukan super women, Bunda… kasih toleransi dikit lah buat diri sendiri 😁 πŸ˜‚
Misalkan: masak bersama, bersih2 rumah bersama (ada pembagian tugas), cuci sepeda sepatu masing2, cuci mobil… banyak deh… itu kan belajar juga πŸ˜‰

*Pertanyaan 4 :*
Bunda, bagaimana menyatukan persepsi ayah/menjelaskan dalam memutuskan untuk HS, mengingat putri kami (hanoona, 6th) belum terlihat kepercayaan dirinya sehingga jika HS malah ‘kurang gaul’ /hubungan sosialnya kurang…syukron -bunda fifi-

*Jawaban :*
Bunda Fifi, apakah Hanoona punya kakak dan adik?
Sepertinya belum ya…
Kalau untuk HS usia SD, saya belum punya pengalaman Bun… karena Wafa pun sekarang sekolah di Kebon Maen (sekolah komunitas juga). Untuk HS memang kita harus bisa ‘membaca’ anak. Ajak anak diskusi. Ajak anak survei sekolah an. Lihat ekspresi dia ketika survei sekolah. Izin ke sekolahnya untuk bisa sit in, sebelum mendaftar. Bertiga ya Bun… Ayah, Bunda, dan anak. Lakukan bersama. Ajak Ayah untuk ikut memutuskan tentang pendidikan buat anak2nya.

Kalau kami, kenapa Wafa sekolah, karena: dia mau sekolah. Kami ajak survei ke beberapa sekolah, lihat ekspresi wajahnya, dia bahagia di mana… Dan kami pilih sekolah yang tidak full day, pelajaran ringan, penekanan pada tahfidz, dapatlah Kebon Maen. Kalau memang dengan HS, anak bisa bahagia, lebih baik, monggo di-HS kan. Tapi kalau dengan HS, anak jadi tidak bahagia… ya sebaiknya pilih yang membuat dia bahagia. Karena Bun, anak yang bahagia itu… dia akan bisa belajar banyak hal… bahkan yang di atas kemampuan dia sebenarnya.

HS atau tidak, sebaiknya dibuat (SWOT)nya –> Strength Weakness Opportunity Treatment.
Yang lebih banyak manfaat/positif nya, yang kita pilih.

*Penutup:*
Satu pesan saya:

Jaga komunikasi dengan pasangan kita. Apa yang mengganjal di hati, sampaikan dengan baik.
Jangan dipendam Bun…

Jangan pernah lari dari masalah. Jangan pernah memendam persoalan. Jangan pura2 menganggap itu bukan masalah, hanya karena kita tidak mau terluka.

Luka itu menguatkan
Luka itu mendekatkan
Luka itu menambah kemesraan

Anak2 itu cerdas, sensitif.
Mereka akan tau ortunya bermasalah, hanya dengan melihat kasat mata.

Komunikasi yang baik itu penting

γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
HSMN
γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
πŸ‘₯facebook.com/HSmuslimnusantara
πŸ‘₯FB: HSMuslimNusantara pusat
πŸ“· instagram: @HSmuslimnusantara
🐀 twitter: @HS_muslim_n
🌐 web: HSmuslimnusantara.org

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *