Browse By

Berdamai dengan Masa Lalu Bersama Bunda Sri Haryati

Cr: HSMN Medan

 

Resume Kulwap – Hsmn Medan

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

📆 Hari / Tanggal: Rabu / 28 September 2016
Jam: 19.30-22.00
👩 Narsum: Bunda Sri Haryati
📋 Tema: Berdamai dengan Masa Lalu
👩 Moderator: Neneng Hadiati
📝 Notulen: Lucy F
Whatsapp Group Hsmn Medan

〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Biodata Narsum:

Curriculum Vitae

🔻Nama: Sri Haryati
🔻Alamat: Villa Pasirwangi Blok G No. 27 Bandung
🔻Status: Menikah

🔻Pendidikan: Master Ekonomi Syariah

🔻🔻Aktifitas: IRT, Kepala Suku di Hayat School, Konsultan, Trainer, dan Tempat Curhat

🔻🔻Motto Hidup: man arofa nafsahu, faqodh arofa robbahu

〰〰〰〰〰〰〰〰〰

📕 Prolog:

Baik bunda-bunda solehah yang dirahmati Allah SWT, semoga silaturahim dan majlis ilmu ini menjadikan kita semakin takwa dan bisa saling menguatkan diri.

Perjalanan manusia dengan kehidupannya adalah perjalanan yang tidak pernah usai dibedah, perjalanan ke dalam diri sendiri adalah perjalanan terjauh yang bisa dilakukan, dan perjalanan paling menantang adalah menemukan kenangan-kenangan yang berserakan berkaitan dengan masa lalu kita, yang mendasari pengambilan keputusan, sikap, pilihan, karakter, dan keseharian kita saat ini.

_Bismillaahirrohmaanirrohiim_

*Berdamai dengan Masa Lalu, problem mapping masalah diri*

Problem based learning

Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga keberkahan Illahi melimpah untuk bunda-bunda hebat. Tema hari ini tentang berdamai dengan masa lalu sengaja saya angkat, karena ternyata pengasuhan kita pada anak, peran kita sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita dibesarkan, oleh siapa, dan apa saja yg mempengaruhi kita, rasa sakit hati kita, soal pilih kasih, kasus-kasus yang membuat kita gagal move on, sehingga tanpa disadari kita berperilaku seperti figur yang kita tidak inginkan. Ternyata. meskipun kita terus memperbaiki diri lewat kajian parenting, dalam prakteknya kita masih sangat sering meniru pola pengasuhan yang kita dapatkan dari lingkungan masa lalu kita. Jadi, pengasuhan kita pada anak hampir 80% berdasarkan masa lalu kita, dan 20% kita pungut secara sadar dari kajian-kajian parenting yg kita ikuti (masih banyak kurangnya).

Ada sebuah cerita:
Seorang ibu katakan bernama A, ibu dengan 3 putra/i. Sahabat yang sudah lama tak bersua, ibu A terlihat sekali kerepotan mengurus putra-putri yg rata-rata dibawah 10 tahun hingga batita, dan saat ini mengandung anak keempat. Suatu hari saya bersilaturahim ke rumahnya, pertama bertemu sungguh jauh dari ceria, wajah sayu, nampak gurat-gurat kelelahan. Setelah berbasa-basi sejenak, tiba-tiba beliau menitikkan air mata, entah kenapa saya tergerak untuk mendekat dan mencoba memahami perasaanya, saya usap pundaknya agar beliau tenang, lalu saya hati2 bertanya, “Teteh kecapean ya?” Pertanyaan sederhana tapi entah mengapa sangat mengena di hatinya, tiba-tiba beliau menangis sambil berbisik lirih, “Saya bukan ibu yang baik teh, saya sakit.”
Di antara isaknya, akhirnya saya menawarkan bantuan dan momen untuk bertemu. Keesokan harinya, beliau mendatangi saya. Sengaja saya minta tanpa anak-anaknya. Ini curhat singkatnya.
“Saya sayang anak-anak saya, tapi entah kenapa saya selalu kesal, saya kesal sama mereka, saya pernah hampir kabur karena saya ga tahan, saya mengabaikan anak-anak karena saya merasa tidak mampu mendampingi mereka, saya marah sama suami padahal suami sangat pengertian, saya tahu mereka ga salah, saya marah sama diri saya, saya ga tahu harus berbuat apa.”
“Teteh ada ibu/bapak?” tanya saya. “Ada teh, tapi saya merasa mereka abai sejak sms.” (sepertinya pembajakan masa lalunya masih tinggi).

“Baiklah, coba kita buka gudang memorinya teteh, adakah momen-momen menyakitkan yg teteh alami sehingga teteh dibajak oleh emosi?”

Akhirnya mengalirlah cerita ketika menangis sendirian menghadapi dirinya, ketika mens pertama tanpa pendampingan, kemarahan karena ayah ibu berkonflik, ketika tidak ada yang menjelaskan pertengkaran ayah ibu, ketika ayah bersikap acuh dan ibu bersikap dingin, tidak ada yang menetralisir kegalauannya.

Dan ternyata kemarahan itu yang membajak emosinya sebagai ibu, tak punya figur dan sakit hati pada ibu/bapak masih menumpuk.

Bunda sekalian, sebagai ibu kita begitu mengutamakan kebahagiaan anak-anak kita, tapi mengapa ketika berada dalam keadaan tertekan, emosi kita masih tak terkendali, semua hal menyakitkan yang pernah kita alami dan tidak ingin kita lakukan, tak bisa kita tahan?

Mungkin saatnya kita berdamai dengan masa lalu kita, agar kita bisa move on.

Ada banyak alarm dalam diri kita yang sering kita abaikan mulai dari fisik, emosi, sosial, spiritual, dan emosional

Mari menata diri kembali, memetakan masalah diri, menyelami kembali apa penyebab sikap2 kita yang tidak sesuai dengan pikiran kita, mengapa setelah mengikuti berbagai sesi parenting, diri kita masih melakukan kesalahan yang sama.

📝 Tanya Jawab:

1. Bunda Rianti
“Karena ternyata pengasuhan kita pada anak, peran kita sebagai ibu sangat dipengaruhi boleh bagaimana kita dibesarkan, oleh siapa, dan apa saja yg mempengaruhi kita, rasa sakit hati kita, soal pilih kasih, kasus-kasus yang membuat kita gagal move on, sehingga tanpa disadari kita berperilaku seperti figur yang kita tidak inginkan”.

👆teori ini sangat sesuai/benar dengan yg sudah sy alami. Kok bisa yah Bund? Bagaimana cara untuk move on dari kondisi seperti di atas? Mohon bantuannya kasih pencerahan bunda.

✅ Jawab:
Baik bunda rianti saya mencoba menggunakan kacamata brainsains, otak kita adalah pusat memory, kendali, perpustakaan yang menyimpan semua referensi, informasi yang kita terima melalui fungsi sensori (audio, visual, panca indera, hati)
Semua hal yang kita rasakan dari kecil tersimpan dalam memori kita (ini disebut proses copy).
Ketika sudah berkeluarga, memiliki anak semua hal yang tersimpan di dalam memori kita mulai melakukan proses paste ( meniru setiap aksi reaksi yang diterima ketika kita kecil).

Secara ilmiah begitu, itu mengapa kita perlu memutus mata rantai ini terlebih dahulu silahkan menyebutnya dgn istilah (tazkiyatunafs, brainwash, cleansing, trauma healing).
Cara untuk move on (tazkiyatunafs) adalah dengan memetakan masalah (problem mapping). <<Lihat Gambar 1>>
Silahkan proses asesmen Gambar 1 diatas bisa digunakan untuk memetakan masalah diri bunda2.

2. Bunda Herlina
Afwan pertanyaan sy lebih mengarah ke mapping masalah diri..
Assalamualaikum bunda sri…
Salam kenal, saya lina 33tahun, ibu 2 anak 6,5th dan 4th.
Alhamdulillah sy gk punya masalalu kelam dengan teman maupun keluarga.
Tp sy susah banget buat nahan emosi.. Sy termasuk perfectionist.
Jd klu ada hal yg gk sesuai, sy lgsg gk nyaman, klu gk dselesaikan sy bs emosi.
Tp terkadang sy bisa memahami ketidaksesuaian itu.
Pertanyaannya kira2 knapa bgitu y bunda?
Knapa kadang sy merasa sy baik banget, tapi terkadang sy merasa emosi berlebihan?

✅ Jawab:
Stabilitas atau dalam islam dikenal dengan istilah pertengahan (balancing) adalah berkaitan dengan kontrol diri, ada pemicu2 internal dan eksternal yang membuat kita bisa moodswing, untuk ini kita juga tetap butuh asesmen diri terkait pemicu dan pemacu tersebut.

Ketika kita perfectionis ada gap/kesenjangan antara harapan dan realita, nah disinilah kontrol diri perlu dilakukan, memberikan ruang untuk lebih fleksibel menerima kekurangan, ketidaksempurnaan itu jg butuh latihan.

Sepertinya kita semua memiliki isyu dengan hal ini.
Untuk hal ini beri sedikit ruang untuk bersikap rileks, coba bunda asesmen biasanya ketika tegang ada warning dari tubuh kita misalnya tegang di pundak, sakit perut, sakit kepala, karena tubuh kita memberi alarm ketika ada hal yang tidak sesuai.

Secara ilmiah begitu, pendekatan yang paling riil adalah istighfar untuk menenangkan syaraf yang menegang😊
Ini jg terkait dgn karakter kita, seringkali ini menimpa orang2 yg kepribadiannya kuat, self esteem yg baik, prinsip yg kuat, dominan (ini kepribadian yang baik, tapi ada sisi lemahnya yaitu perfectionis, kaku, harus by theory).
Intinya tiap kepribadian punya sisi lemah yg perlu dikelola dan sisi kelebihan yang perlu dikembangkan😊

• Tanggapan:
Terkadang pengen jd org yg super cuek, gk peduli dengan kejadian apapun, tp gk bisa….

✅ Jawab:
Hehehe memang ga bun lina, itu kelebihan dan kekurangan kita, hanya belum menemukan ruang berkespresi saja.

• Ini nih yang bikin bingung. Pengen kyk suami sy, yg bisa menyimpel kan hidup ini…

✅ Jawab:
<<Gambar 2>>
Coba pake analisis swot bun untuk membedah kelebihan kekurangan, kesempatan dan ancaman diri kita.
Hehehe setiap orang sudah diberikan keunika tersendiri, pasti ada kebermanfaatan sesuai dengan tugas kekholifahan kita bun😊.
Ilmu manajemen ini luas sekali penggunaannya, ini membantu kita memetakan diri, mengenal limit/batas diri, agar tidak berlebihan😊

• Tanggapan dari Bunda Afita: Cara pake nya gmn bu sri

✅ Jawab:
Dua bilik diatas untuk memetakan kelebihan internal dan kekurang diri kita.
Dua bilik dibawahnya memetakan kesempatan disekitar kita (dari luar diri kita) dan ancaman yg muncul dari luar.

3. No Name
Assalamu’alaikum bunda sri.
Bu, mau tanya. Bagaimana ya supaya emosi stabil? Tidak gampang pundung atau bahkan marah sm anak2 dan suami?
Sewaktu kecil sy jauh dr sikap seperti itu. Alhamdulillah orang tua sy membesarkan kami dengan kecukupan dan kebahagiaan. Mohon pencerahannya bu.
Syukron, jazaakillahu khairan.

✅ Jawab:
Baik bunda, tidak gampang pundung dan marah bisa jadi karena kurangnya pemahaman diri terhadap jenis emosi orang lain (suami/anak2), kebutuhan bahasa cinta org lain yang blm kita pahami, dan kebutuhan bahasa cinta kita sendiri, atau energi kita yg dipakai berlebih dan lupa memberi ruang buat diri kita untuk ngechas energi sendiri.

Analoginya seperti senter kalo dinyalakan terus2an meskipun lampu menyala maka cepat habis, tapi klo dinyalakan ketika mati lampu saja, atau butuh menyinari sesuatu yg tak terlihat baru terasa manfaatnya.

Bisa jadi pekerjaan rutin, kesibukan yang terus menerus menguras power membuat kita tidak balanc dengan diri sendiri, karena marah itu adalah bahasa lain dari kelelahan, hal yang berlebihan, pelayanan yang over😊. Mangga dioverview dari diagnosa diatas😊 (Gambar 2)

Saya blm bisa melanjutkan bahasan, karena diagnosa lebih lanjutnya blm ada, jadi saya cukupkan ya

4. No Name
Assalamualaikum bunda sri..
Saya fikir permasalahan ini hanya saya yang rasa, dan ga tau mau bercerita dan konsultasi ke siapa. Dari materi diatas, saya mengalaminya. Malah lebih parah karena sejak kecil dan malah saya ingat sampai hari ini waktu saya duduk di bangku SD kls 2, saya pernah di tenggelamkan didalam bak mandi (dalam kondisi kepala dibawah kaki diatas) oleh papa saya, sampai jidat berdarah kena benturan. Saya dihukum krn bolos pergi mengaji dan main dirmh temen. DAN masih banyak perlakuan2 orang tua saya yg menggunakan kekerasan sampai saya kuliah.

Saya ingin menyelesaikan hal yg saya tidak ketahui ini bunda.. pada akhirnya secara sadar, saya melakukan kekerasa kpd anak apabila saya emosi. Saya benci, saya marah, dan saya tidak sabar. ☹

Apa yg harus saya lakukan untuk diri saya bunda sri?

✅ Jawab:
Semoga ketabahan dan kesabaran untuk bunda selalu, semoga diberikan kelapangan hati.
Baik bunda, saya coba menggunakan analogi tas yang indah, hati kita seperti tas, jika diisi dengan kotoran, mau seindah apapun pasti akan rusak. Maka agar tas itu tetap indah, keluarkan kotoran dan bersihkan (proses tazkiyatun nafs).

Maka kita anggap semua perlakuan negatif tersebut adalah kotoran, bunda belajar membersihkan, mangga silahkan mau pake metode apa mau ditulis, digambar, direkam, keluarkan anak kecil yg terluka didiri bunda, jangan sampai terjebak dalam tubuh dewasa tapi dengan luka anak2. Kapan waktu bunda bisa mengeluarkan ini disebut dengan metode tracing the past.
Kalo tidak ada ruang untuk mengungkapkan secara langsung pada ortu maka mintalah bantuan pd ahli/terapis untuk mengeluarkan kotoran itu, perkuat dengan do’a dan istighfar, kembalikan dari kondisi minus ke titik nol.
Lebih lanjut boleh wapri saya.

5. No name
Sebenarnya tidak bisa dipungkiri, masa lalu dapat menjadi alarm sengaja atau tidak sadar membangkitkan trauma masa lalu. Semacam ada memori di alam bawah sadar yang belum tuntas ketika merasa tidak terima dengan hukuman yang harua saya terima tidak sebanding dengan kesalahan yang saya lakukan. Ketika ayah saya membahasakan rasa sayangnya dengan overprotektif ke saya jujur menyisakan kesedihan karena saya sering tidak bisa berkespresi sesuai keinginan saya, dan bila salah mendapat hukuman yang menurut saya tidak setimpal dengan saya. Sadar atau tidak sadar hal itu menjadi kenangan masa lalu yang kadang bila saya tidak kontrol dan cepat menyadarkan diri membuat saya marah kepada anak saya seperti halnya ayah saya memberikan hukuman kepada saya dlu. Saya sudah sering mencoba memaafkan dn berulang kali membesarkan hati, tapi kenapa ya bun, ada kekecewaan dihati saya yang belum tuntas. Kira2 apa yang harus saya lakukan, ketika saya selalu membesarkan hati dan diri utk memaafkan kedua orgtua saya, namun bayang2 kekecewaan didikan masa lalu masih terbayang secara tidak sadar?

✅ Jawab:
Proses trauma facing memang proses yang panjang bunda, dan kehidupan kita tidak ada yang lepas dari itu, butuh seumur hidup untuk terus memberikan input positif, menenangkan rasa sakit kita, itu fitrah emosi.
Alhamdulillahnya ada penawar untuk terus melawan kesedihan yaitu cinta kasih.
Cinta kasih, pikiran positif, indahnya dicintai Allah lewat ayat qauliah dan kauniah, indahnya dicintai rasulullah lewat syafa’atnya, indahnya cinta dan mencintai pasangan, indahnya belajar mencintai anak-anak, dan belajar mencintai diri sendiri, keluarlah dari jiwa yang terkungkung karena luka, beri kesempatan untuk tertawa, sinari dengan iman, pelihara dengan persahabatan😊

6. No name
Assalamu’alaikum bu Sri.
Masa lalu saya yg kurang perhatian. Membuat pribadi saya yg cuek. Orang tua prmpuan saya mninggal sjak saya usia 8th. Lalu di asuh oleh nenek, bersama adik2 mama saya. Mama anak no 1.
Tidak ada yg bisa di contoh di rumah, tdk ada yg bisa di ajak diskusi, taunya klau kita buat salah dimarahi. Yg penting belajar, sekolah. Ntah gimana perasaan saya gk tau.
Ini yg buat saya ingin cepat menikah, usia saya wktu itu 20th dan sedang kuliah semester 3.
Brharap bisa dekat dgn mertua, trnyata saya salah. Kita (saya n mertua) dekat sblm kami nikah tdk jadi jaminan klau sdh menikah bisa dekat juga.
Suami saya jg pendiam, apalagi klau sdg sibuk ksehariannya. gak bisa di usik2
Pikirannya.
Jadinya saya curhat sama Allah saja.
Rasanya lebih tenang.
Tapi namanya manusia, ttep aja kepingin curhat sama ssorg supaya lega mksdnya.
Gimana ya bu Sri, apa yg hrus saya lakukan? Apa yg bisa saya ubah di diri saya?

✅ Jawab:
Subhanallah bunda, semoga kasih sayang Allah melimpahi bunda lewat saudara, sahabat, silaturahim, dan hari yang indah setiap harinya😍
Perhatian, penghargaan, kepercayaan adalah tabungan-tabungan yang memang selalu perlu diisi oleh orang-orang terkasih, sulit belajar mencintai jika kita tak tahu rasanya dicintai.
Mari mensucikan diri, memperbaiki niat, jika dulu ingin cepat2 menikah karena ingin cepat2 berganti perahu, ternyata perahu yang sekarang tidaklah lebih baik dari perahu sebelumnya, maka mari memperbaiki apa yang bisa diperkuat dari diri sendiri (mulailah berbagi, berkomunikasi, bersinergi, belajar emosi dengan orang yang paling dekat dengan bunda yaitu suami).

Tidak masalah inisatif itu muncul dari mana, maka jadilah pemimpin untuk kehidupan ini, mengajarkan cinta lg pada kapal yang akan karam ini, karena Allah telah menyematkan cinta dalam diri kita), stop mempermasalahkan kekurangan diri dan kekurangan org lain, mulailah membangun cinta dan mengasah mutiara yang terpendam😊.

7. Bunda Wina
Asslmkm bunda sri☺
Saya wina 33 thn ibu dri 2 anak.10 thn dan 6 thn.saya punya masalah dgn anak pertama saya.
Dulu sblm belajar kehidupan parenting yg baik saya adalah ibu yg kasar sama anak.
Tp seiring berjalan nya waktu saya trus mencoba memperbaiki diri buat anak2 saya.tp sekarang saya mulai merasakan dampak nya pada anak saya yg pertama.sifat nya lebih keras ,kasar n susah diatur dan susah diajak bicara😭😭berdosa sekali rasanya saya.
Apakah masih bisa saya memperbaiki keadaan sama anak saya bun?bagaimna sebaiknya langkah yg saya ambil?
Makasi bnyak bunda sri.

✅ Jawab:
Insya Allah sangat-sangat bisaa bunda, yakinlah pada Allah dan pada diri sendiri, Sudah ada toolsnya dalam diri kita.

Pertama point terpenting adalah memetakan diri sendiri, tazkiyatun nafs, memaafkan kekhilafan kita.

Kedua: Perbaiki komunikasi dengan anak, minta maaflah atas semua perilaku yg telah bunda lakukan.
Katakan betapa cinta, bahagia, bangganya bunda kepada ananda, dan akuilah ketidaktahuan diri kita, ungkapkan bahwa anandalah guru terhebat yang mendorong bunda untuk terus belajar.

Ketiga: banyak2lah menyambungkan bahasa cinta lewat obrolan ringan, humor, permainan dengan anak. Anak butuh waktu untuk percaya pada kita, dan kita butuh waktu lebih banyak untuk mengejar ketertinggalan kita.

8. No Name.
Sy termasuk tipikal org yg Gampang menagis ya..
Sedih krn terharu..Atau sedih krn mmg kejadian sedih..
Itu kira2 knp ya bunda??
Dulu tuh lht anak lelaki sy tampil dipanggung aja sy bisa nangis loh bund..Tp skrg sdh agak kurang sih..


Klo ada yg pernah mengikuti talent mapping ini terkait dengan bakat bawa’an, potensi internal kita, terlalu gampang menangis sebetulnya menunjukkan diri bunda sebagai pribadi yang memiliki rasa empati yg tinggi.

Ini kelebihan sekaligus memiliki kekurangan, kelebihannya mudah tersentuh, mampu merasakan perasaan orang lain. Kelemahannya kalo tidak bisa dikontrol kadang sering baper hehehe.

Intinya kalo sudah tahu bakat diri sendiri, kenali kelebihan dan kekurangannya, lalu belajar mengontrol untuk menyeimbangkan.

9. Bunda Shisca
Terimakasih atas kesempatannya bu moderator.. Bu Sri,dr pemaparan td artinya ada proses problem mapping,dilanjut dgn tazkiyatun nafs(analisa sworth dsb), lalu proses cleansing dan healing..Mgkn hal diatas baru akan menyadarkan qt saat qt mengurai permasalahan tsb setelah meledak(memgekspresikan emosional).bagaimana metode yg tepat utk membuat alarm reminder secara spontan saat qt terjebak dlm kasus berulang maupun kasus yg baru. Spy tidak mengulangi kesalahan2 sebelumnya..jazakillah atas jawabannya bu sri..

✅ Jawab:
Alurnya seperti di atas bun (lihat Gambar 3), mulai dgn alarm fisik (ada alarm dari tubuh kita) 🔜 alarm emosi (apa yg bunda rasakan)🔛dipicu oleh stimulan dari luar (anak rewel, suami cemberut) 🔜 alarm sosial (berperilaku sama dgn stimulan) 🔜alarm spiritual (meminta kekuatan Allah) 🔛alarm intelektual (diselaraskan dgn pikiran, apa yg saya dapat dgn marah, apakah saya puas).

10. Bunda Hasnah
Trims bun neng sdh dipersilakan..Bun, masing2 qt jg suami pasti punya masa lalu yg berbeda.. Sy tipikal org yg suka gmpang koreksi diri, tp mskipyn bgtu, refleks dr rekaman bwh sadar dr masa lalu suka tlanjur tjadi br menyadari, sy trus n trus berusaha mpbaiki.. Sembari jg belajar dr ilmu2 parenting.. Gimana tu ya bun.. Apa sdh tlalu kuat benar rekaman itu sampai hrs trs terulang ulang lg..

✅ Jawab:
Rekaman masa kecil memang kuat itu karena yang pertama terbentuk dan berfungsi adalah fitrah emosi, sehingga setiap peristiwa melibatkan emosi, usia 13 tahun kebawah adalah masa pembetukan kemampuan kognisi, dan pfc (prefrontal cortex lengkap di usia 20 tahunan) sehingga pertimbangan baik buruk baru nampak.

• Tanggapan:
Naa utk yg pasangan, beda lagi, plg gampang koreksi org lain.. Apalg k saya, sgl hal dikoreksi.. Apa itu jg pngaruh dr masa lalu bliau bun.. Sy yg gmpangan introspeksi diri tp ditambah lg suka dkritik pasangan sndiri alhasil jd merasa smakin ga da bagusnya diri ini..


Untuk itu semua maka harus membuat konstruksi emosi dan kerangka berpikir yang baru.
Pasangan kita pasti memiliki memori dan trauma tersendiri, dibutuhkan keterbukaan untuk saling memahami masa lalu dan memutus rantainya agar kita sebagai korban tidak berubah menjadi pelaku😊.

11. No name
Apa yg harus dilakukan ketika luapan emosi tak terhindarkan, merasa tdk berdaya menghadapi anak2, yg terkadang kemarahan muncul yg tdk seharusnya tjd.

✅ Jawab:
Mundur teh, jangan lanjutkan pertarungan yang tidak seimbang, silahkan time out, mulai dgn tarik nafas panjang, istighfar, boleh duduk atau meminta jeda pd anak2 untuk sendiri dulu.
Ungkapkan pada anak2 teteh sedang perlu menenangkan diri.
Anak2 perlu tahu dan paham cara teteh, agar mereka belajar memahami cara yg baik mengelola diri.

12. Bunda Herlina
Sy pernah dengar bbrp cerita teman…
Dulu kami dipukuli sama ortu kami…
Dulu kami dididik keras…
Dulu kami gk boleh salah…
Tapi sekarang kami tau hikmahnya, mungkin klu dulu gk dgituin ortu kami, mungkin skrg kami gk jadi apa2…
Gmn menurut bu sri ttg statement di atas…
Atas jwbnnya kazakillah y bunda…


Kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain (ortu, saudara, teman) pada kita, tapi kita bisa memilih cara menyikapinya, pernyataan di atas menunjukkan kemampuan untuk bisa berdamai dengan masa lalu dan mencoba mencari sisi positifnya, tapi juga perlu dibersihkan agar pola yg sama tidak kita lakukan pada anak2 kita di luar ketentuan pengasuhan dalam Islam 😊 .

Wallahu a’lam..

Wassalamu’alaikum wr. wb.

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
🔅🔆🔅🔆HSMN🔆🔅🔆🔅
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
👥facebook.com/hsmuslimnusantara
👥FB: HSMuslimNusantara Pusat
📷 instagram: @hsmuslimnusantara
🐤 twitter: @hs_muslim_n
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *