Browse By

Cara Agar Anak Mudah Bersosialisasi Bersama Ratih Sondari

*RESUME KULWAP JAKARTA DAN KALIMANTAN*

πŸ“… Hari/Tanggal: Rabu, 22 Maret 2017
⏰ Pukul: 14.00 – 16.00 WITA
πŸ“š Tema: CARA AGAR ANAK MUDAH BERSOSIALISASI
πŸ‘€ Narasumber: Ratih Sondari, M.Psi
πŸŽ™Moderator:
1. Diah Kurniati
2. Novi
πŸ“Notulen: Ami

*BIODATA NARSUM*

Nama lengkap : Ratih Sondari, M.Psi., Psikolog
Nama panggilan : Ratih
TTL : Jakarta, 30-01-1985
Status: Menikah
Pendidikan: S2 (Magister Psikologi Profesi, Majoring Klinis Anak dan Remaja, Unpad)
Aktivitas saat ini: Ibu homeschooler bersama 1 anak laki-laki berusia 8 tahun.

*CARA AGAR ANAK MUDAH BERSOSIALISASI*

“Bun, anak saya tuh kalau di rumah aktif, pinter ngomong, berani nyanyi dan tampil, tapi kok kalau di sekolah atau ketemu orang lain dia ga keliatan pinternya. diem aja kayak pemalu. itu kenapa ya, Bun?”

Pertanyaan demikian sering saya terima, baik ketika konsultasi, talk show, kulwapp, dan mengobrol biasa. Banyak orang tua yang menilai anaknya “jago kandang”. Ketika di rumah dia bisa “perform” tapi ketika di lingkungan luar rumah menjadi anak pemalu. Mengapa anak seperti itu?

Anak berani menampilkan dirinya ketika di dalam rumah, di depan orang-orang yang telah dikenal baik olehnya karena ia merasa AMAN dengan orang-orang di rumahnya. Ia merasa disayangi dan diterima oleh keluarganya (terutama ibunya), sehingga ia berani tampil di depan keluarganya. Ia tahu bahwa keluarganya akan menyukai kepintarannya dan tidak akan menertawai atau meledek penampilannya.

Berbeda ketika anak berhadapan dengan orang asing (stranger), ia butuh waktu untuk menilai apakah orang asing tersebut aman, baik, dan menyukainya. Secara umum, anak berusia 6 bulan mulai menunjukkan stranger anxiety. Stranger anxiety adalah ketakutan dan kekhawatiran yang ditunjukkan anak terhadap orang yang asing baginya. Terdapat variasi individual dalam derajat stranger anxiety, ada anak yang tidak menunjukkan ketakutan ketika menemui orang asing, tetapi ada juga yang sangat ketakutan. Stranger anxiety muncul secara bertahap, pertama kali muncul pada usia bayi 6 bulan dengan reaksi yang berbeda-beda. Pada usia 9 bulan, ketakutan semakin intens dan meningkat sampai anak berusia 1 tahun. Berbagai faktor berpengaruh terhadap stranger anxiety ini, termasuk konteks sosial dan karakteristik orang asingnya. Bayi akan menunjukkan lebih sedikit ketakutan jika bertemu orang asing di rumahnya sendiri dan ketika ia berada di pangkuan/pelukan ibunya. Bayi anak menunjukkan lebih sedikit ketakutan jika orang asingnya adalah anak-anak, daripada orang dewasa; dan jika orang asingnya ramah dan tersenyum kepadanya. Kesimpulannya, ketakutan anak kepada orang asing atau orang yang baru dikenalnya akan lebih sedikit jika ia merasa AMAN. Stranger anxiety ini pada sisi lain adalah hal yang baik untuk dimiliki anak sebagai kewaspadaan terhadap penculikan. Cara orangtua memperkenalkan anak kepada orang asing yang baru ditemui anak dan menunjukkan kepada anak bahwa orang tersebut aman akan memudahkan anak untuk bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Tadi sudah disinggung beberapa kali bahwa untuk memudahkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sosial di luar rumah adalah dengan memberikan rasa aman kepada anak. Rasa aman ini dimulai dari rumah. Masa kritis pembentukan kelekatan yang aman (secure attachment) antara anak dan ibu adalah pada tahun pertama kehidupan anak ketika anak belum berdaya memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Ibu yang responsif terhadap kebutuhan anak dengan segera mengurangi rasa lapar, haus, sakit, tidak nyaman bayinya, akan mengembangkan perasaan aman di dalam diri anak bahwa dunia ini bisa dipercaya, bahwa ketika anak merasa tidak nyaman akan akan ada ibu yang menyayanginya yang memberikan kenyamanan. Bayi yang sering dipeluk, dibelai, diajak bicara dengan ramah, sering melihat senyuman ibunya, akan merasa disayangi dan merasa dunia ini aman. Anak yang merasa aman dan disayangi akan lebih berani mengeksplorasi dunianya dan bersosialisasi dengan orang lain dibandingkan dengan anak yang anak yang merasa tidak aman dan kurang disayangi orangtuanya. Jadi untuk memudahkan anak bersosialisasi dengan lingkungan luar sudah dimulai sejak anak masih bayi ketika ia bersosialisasi dengan keluarga terdekatnya. Bagaimana anak menilai dunianya akan dipengaruhi oleh bagaimana ia diperlakukan sejak bayi.

Setelah kita memberikan kenyamanan bagi anak dan memperkenalkan bahwa lingkungan sekitarnya aman, kita perlu melatih keterampilan sosial kepada anak. Melatih keterampilan sosial kepada anak, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
πŸ— Memberikan petunjuk tentang perilaku-perilaku penting dalam situasi sosial. Anak perlu tahu bahwa setiap baru bertemu orang, ia sebaiknya mengucapkan salam. Mengatakan β€œhai/halo/assalamu’alaikum” di awal pertemuan sudah merupakan langkah besar bagi anak untuk berinteraksi dengan orang lain. Ajarkan kepada anak tentang ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang penting, seperti kontak mata ketika berbicara, senyuman, dan anggukan kepala. Di dalam melatih anak untuk melakukan percakapan, ajarkan kepada anak untuk memerhatikan minat lawan bicara dalam memilih topik pembicaraan. Anak perlu menyadari bahwa dalam percakapan kita saling berbagi ide dan informasi. Di dalam melakukan percakapan, menjadi pendengar yang baik (active listening) merupakan kuncinya. Ajari anak untuk mendengarkan orang ketika berbicara dan memberikan komentar yang sesuai dengan ucapan lawan bicara. Anak perlu belajar bahwa dalam berkomunikasi, komentar mereka penting dan berharga.
πŸ— Berikan umpan balik (feedback) kepada anak terhadap perilaku-perilakunya di lingkungan sosial. Umpan balik diberikan secara jujur sesuai perilaku anak. Jika anak sudah berperilaku baik, maka pujilah usahanya dalam berinteraksi dengan orang lain dengan menyebutkan perilaku-perilakunya yang sudah sesuai. Jika anak masih terlihat kurang luwes, gugup, sampaikan kepada anak secara deskriptif tentang perilakunya tanpa penilaian baik-buruk, dan berikan saran bagaimana perilaku yang bisa dilakukan anak selanjutnya bila berada di situasi yang sama.
πŸ— Latihan berperilaku. Cara paling efektif dalam mengajarkan keterampilan sosial adalah dengan latihan-latihan aktual dalam situasi sosial dengan berbagai cara berperilaku. Role-play (bermain peran) juga bisa dilakukan untuk latihan berperilaku di berbagai situasi sosial. Anak biasanya sangat suka bermain peran. Peran bisa diubah-ubah, anak tidak harus selalu merasakan peran sebagai anak dalam berbagai situasi sosial, tetapi sesekali anak bisa diminta memainkan peran sebagai guru atau orang dewasa lainnya agar ia bisa latihan melihat situasi sosial dari sudut pandang yang berbeda.
πŸ— Modelling. Berikan contoh kepada anak bagaimana berperilaku di situasi sosial. Anak paling efektif belajar dengan meniru (karena tahap berpikirnya masih konkret). Oleh karena itu, jika ingin anak luwes dalam bersosialisasi, maka kita berikan contoh cara bersosialisasi kepada anak.

Untuk zaman sekarang yang marak kasus penculikan anak, kita perlu mengajarkan anak untuk tetap waspada kepada orang asing, terutama jika orang asingnya adalah orang dewasa. Untuk mencegah penculikan atau kekerasan seksual kepada anak, sampaikan kepada anak:
❗Waspada kepada orang dewasa atau anak yang lebih tua yang tidak dikenalkan langsung kepada anak oleh orangtua.
❗Tidak menerima pemberian orang lain jika tidak disaksikan dan diizinkan orangtua sendiri.
❗Jangan mau diajak pergi tanpa orangtua. Jika tanpa orangtua, anak harus mendengar langsung orangtua memberikan izin, misal anak meminta pengajak untuk menelepon orangtua dan membiarkan anak berbicara langsung dengan orangtuanya. sebaiknya anak dan orangtua memiliki password yang diubah-ubah setiap anak dan ortu berpisah agar hanya anak dan ortu yang tau password pada hari itu apa.
❗Ajari anak untuk berteriak meminta tolong ketika ia dipaksa melakukan hal yang tidak dikehendakinya.

untuk tambahan, saya mau menyampaikan tentang temperamen. temperamen adalah gaya berperilaku individu dan karakteristik dalam merespon secara emosional. temperamen ini sudah dibawa anak sejak dia lahir. untuk ortu yang memiliki lebih dari 1 anak mungkin bisa mengamati dan merasakan sendiri bahwa sejak bayi anak sudah menunjukkan karakteristik tersendiri, ada anak yang bawaannya rewel, ada yang bawaannya anteng, ada yang mau sama siapa aja dsb. temperamen ini juga berpengaruh dalam sosialisasi anak kelak. secara umum, anak diklasifikasikan menjadi 3 kelompok berdasarkan temperamennya:

1. easy child (anak yang mudah): yaitu anak yang secara umum berada dalam mood yang positif, ketika bayi mudah mengikuti rutinitas yang teratur (misal, mudah mengikuti jam tidur dan makan yang diatur ortu), dan mudah menyesuaikan diri dengan pengalaman baru.
2. difficult child (anak yang sulit): yaitu anak yang cenderung bereaksi secara negatif dan sering menangis, sulit mengikuti rutinitas yang teratur, dan lambat dalam menerima pengalaman baru.
3. slow-to-warm-up child (anak yang butuh waktu), yaitu anak yang memiliki level aktivitas yang rendah, lambat dalam menyesuaikan diri, dan menunjukkan intensitas mood yang rendah.

secara umum, anak dengan temperamen mudah (easy child) akan lebih mudah bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. orangtua perlu menyesuaikan cara pengasuhannya dengan karakteristik temperamen anak. ortu dengan anak yang difficult dan slow-to-warm-up perlu lebih sabar dalam melatih keterampilan sosial kepada anak dan mengajak anak untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.


===============
1⃣
Puri HSMN JAKARTA

– Bagaimana cara ‘melarang’ bayi agar dia tetap merasa disayang? Misalkan dia mainan gunting, itu kan bahaya, kalau kita ambil guntingnya dia nangis/marah karena merasa mainannya diambil. Apakah baik membiarkan anak menangis seperti itu?

Intinya sih bagaimana bersikap bijak kepada anak (dalam hal ini masih bayi) agar dia terus merasa disayang tetapi juga sambil kita ajarkan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

========
Jawaban:

Saat melarang bayi, misalnya melarang memegang gunting, kita ambil guntingnya dengan lembut, dengan kata-kata yg lembut dan ekspresi muka tetap tersenyum. Saat melarang anak, kita berikan alternatif yang boleh dilakukan anak. Jadi saat mengambil gunting, kita berikan mainan lain sebagai pengganti. Selama anak masih bayi, kita alihkan perhatiannya ke hal lain yg juga menarik/menyenangkan bagi anak. Ketika anak sudah bisa diajak berkomunikasi verbal (setelah kemampuan bahasanya berkembang), setiap melarang anak kita sampaikan ALASAN kenapa hal itu dilarang dan apa KONSEKUENSINYA jika anak tidak menuruti. Selalu sampaikan kepada anak bahwa kita melarang karena kita sayang pada mereka, karena hal yang dilarang itu tidak baik buat anak, karena kita tidak ingin anak celaka, dsb.βœ…

========
Tanggapan:
Apakah ketika anak menangis karena tidak diizinkan memegang atau memakan sesuatu itu akan berpengaruh pd persepsi dia terhadap ortu? (Misal, ayah/ibu jahat karena aku pasti tidak boleh Melakukan atau memakan A)
======
Tidak kalau kita melarang dengan lembut dan memberi pengganti. Meskipun anak belum bisa bicara, kita tetap bisa katakan kepada anak bahwa itu “bahaya”. Dengan berkembangnya kemampuan kognitif dan bahasa anak, dia akan mengasosiakan setiap benda yang dibilang “bahaya” oleh ortunya itu adalah benda yg dilarang.

=====================
2⃣ Desi jakarta.
Bagaimana kalau anak kita (16bulan) terlalu mudah bersosialisasi atau bahkan suka langsung “mengeplak” (atuh apa ya bahasanya)hehe..pokonya setiap melihat apa yang dilihat dia tidak suka langsung memberikan reaksi walaupun dgn orang yang baru dikenalnya.. Bagaimana ya menanggulanginya? Agar tidak jadi kebiasaan sampai nanti dewasa?

Jawaban:
Anak usia 16 bulan secara umum sudah bisa diajak berkomunikasi sederhana, dia sudah mengerti kalau kita larang, baik dilarang dengan kata-kata atau dengan bahasa isyarat (ekspresi wajah dan gerakan tangan). Setiap anak “mengeplak” kita tunjukkan ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya. Misal katakan “jangan sayang, tangan kan buat membelai, bukan memukul”, sambil memegang tangan anak dengan maksud mengendalikan agar tidak mengeplak untuk kedua kali. Lalu kita meminta maaf kepada orang yg dikeplak anak kita, sebagai etika dan juga sebagai contoh kepada anak. Sebaiknya jangan ada orang dewasa yang tertawa ketika anak mengeplak. Sebagian orang dewasa menganggap hal tsb lucu. Bagi anak, reaksi tertawa orang thd perilakunya itu menjadi penguatan (reinforcment) untuk mengulanginya lagi krn dia kira orang2 suka dengan perilakunya. βœ…

=======
Tanggapan:
Udah diberi isyarat saya geleng geleng dan menahan tangannya.. Terlebih lagi kalau mainannya diambil oleh sepupunya yang seumuran, dy langsung reflek “mengeplak” pakai tangan.. Lalu dy geleng geleng sendiri..yg menandakan kalau dy tau itu tdk boleh..
Bagaimana kalau terus berulang ya bunda? Kalau kita bilangin sambil menepuk tangannya isyarat tidak boleh..boleh ga ya?
=======
Ditahan aja bunda tangannya. Kita perlu sigap juga ya berarti. Ketika kita menilai ada situasi yg bisa memicu anak mengeplak, kita langsung pegang tangannya untuk menahan. Anak bunda sudah mengerti itu tidak boleh tp belum bisa mengendalikan agresinya karena prefrontal cortex di otaknya (bagian otak untuk self-control) belum matang. Hal itu wajar untuk anak-anak. Makanya kebanyakan anak-anak berperilaku agresi karena otaknya yg berfungsi untuk mengontrol diri belum matang. Yg penting dr skr dikasih pemahaman mana yang boleh dan tidak. In syaa Allah ketika otaknya sudah matang, dia akan bisa mengendalikan diri.

======================

3⃣. Husna Kalimantan

Assalamualaikum mba Ratih… saya punya anak 5..semua jarak umurnya rapat2..anak yg ke 3(3,8y) dan ke 4 (2,2y) jaraknya hanya 16 bulan,suka berebut sesuatu apa aja, saya kadang kewalahan jgπŸ˜…, yg kaka kasian selalu mengalah dan nangis, yg ade selalu memukul dan menang, gimana ya caranya mba.?
Biar tdk selalu berebut dan kaka jg bisa merasa adil ga di kalahkan terus..
Terimakasih

=======
Jawaban:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. alhamdulillah bunda Husna sudah diamanahi 5 anak 😊. Untuk anak usia 3thn dan 2thn memang masih sulit untuk diminta menunggu bergiliran menggunakan sst (berkaitan dengan kematangan otak yg mengatur self-control dan cara berpikir egocentris/hanya bs melihat dr sudut pandang diri sendiri). Jika memungkinkan kita berikan masing-masing satu untuk setiap anak. Tapi tidak semua benda juga bisa kita berikan satu pada setiap anak dan mereka memang perlu dikenalkan untuk mau latihan menunggu giliran. Untuk adik yang suka memukul, caranya sama seperti jawaban anaknya bunda desi. Ketika benda yg diperebutkan cuma 1, bunda yg pegang kendali untuk mengatur waktu giliran menggunakan benda tsb. Katakan kepada anak bahwa mereka harus mau bergiliran memainkannya. Jika tidak mau bergiliran, maka keduanya tidak akan diberi pinjam sama sekali. Di awal kemungkinan anak akan menangis. Tidak apa-apa, biarkan anak menangis dan jangan diberi jika ia meminta dengan menangis. Jangan biarkan anak menggunakan tangisan untuk mendapatkan kemauannya. Ini perlu kesabaran krn di awal-awal mungkin anak masih sulit mengikuti aturan kita. Tp kalau kita konsisten dan anak “menyadari” bahwa dia hanya akan mendapatkan yg ia mau jika mau bergiliran, maka anak akan belajar mengikuti aturan kita.
Sambil menunggu giliran menggunakan benda yg diperebutkan, kita sediakan aktivitas lain yg menyenangkan buat anak. Kalau bunda tegas, konsisten dan yakin anak akan nurut, in syaa Allah anak akan nurut. Saat menyampaikan aturan ke anak, sampaikan dengan keyakinan bahwa anak akan nurut sama kita. Jangan perlihatkan keragu-raguan. Saya pernah menerapkan ini pada anak saya, ketika usia 2 tahun dia suka berebut mainan dengan sepupunya, saya ajarkan untuk bergiliran dan saya sampaikan jika tidak mau bergiliran maka dua-duanya tidak akan dapat kesempatan menggunakannya.

========

4⃣ Dini – Jakarta

Maaf mau tanya..
Apakah kesulitan bersosialisasi ada kemungkinan menurun? Misal ada riwayat orangtua waktu kecil pemalu.. anak saya usia 5,5 tahun, kalau bertemu orang baru atau bahkan saudara yg bertemunya setahun sekali..masih kesulitan utk menyapa atau menjawab bila ditanya. Apakah ini normal di usianya sekarang? Terimakasih
=======
Jawaban:
Kalau orangtua pemalu, maka kemungkinan anak akan meniru perilaku orangtuanya. Jadi “menurun”nya karena orangtua memberi contoh demikian atau orangtua tidak mengajarkan cara berperilaku di lingkungan sosial. Di materi pengantar ada langkah-langkah melatih keterampilan sosial kepada anak, bisa bunda praktekkan dengan anak

=======

5⃣ Astri – Kalimantan

bismillah

assalamualaikum

1. Bagaimana cara melatih atau memberi pengertian kpd anak agar tidak membeda-bedakan dalam berteman.
kasusnya seperti ini :
misal ada beberapa anak yg main kerumah, kmudian anak saya cocoknya dengan si A, maka yg dipinjemi mainan dan diajak ngobrol atau mainan itu hanya si A, sedangkan si B ini dicuekin bahkan jika memegang mainannya maka langsung diminta.

2. 2 Bulan yang lalu suami saya berencana mendaftarkan ke sekolah TAUD, sebelum penerimaan ada sesi wawancara dengan ustadzahnya. Kebetulan waktu jadwal anak saya itu ustadzahnya udzur sehingga diganti ustadz, maka saat ditanya anak saya tidak mau bicara sama sekali. Apakah ini perlu diatasi atau memang wajar krn anak merasa di zona tidak AMAN? (akhirnya g jadi diterima n malah anak saya dikira kurang bersosialisasi)
=======

Jawaban:
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..

1. Memberi pengertian kepada anak agar tidak membeda-bedakan dalam berteman adalah dgn mengajarkan adab berteman kepada anak. Kita jelaskan kepada anak, bahwa berteman itu harus karena Allah Ta’ala, kita bisa membacakan dan menjelaskan hadits-haditsnya. Lalu dalam membedakan teman pun dengan membedakan teman yang baik dan buruk seperti perumpamaan pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Jika teman yang dicuekin dan dilarang memegang mainan itu tidak termasuk golongan “pandai besi” maka kita jelaskan kepada anak untuk tidak membeda-bedakannya krn bisa menyakiti hati temannya tsb. Kita bisa minta anak membayangkan dirinya di posisi teman yg dicuekinnya itu biar anak bisa empati kepada temannya dan tidak melakukan hal yg tidak menyenangkan kepada temannya.

2. Anaknya perempuan ya? Jika dia sudah memahami adab pergaulan Islam dan merasa tidak nyaman dan tidak aman berbicara dengan ustadz, maka wajar saja jika anak demikian. Jika dalam situasi lain dia tetap bersosialisasi dengan wajar dengan teman sebayanya atau orang dewasa lain, maka tidak ada masalah. Wajar jika dalam situasi wawancara anak mengalami kecemasan shg dia tidak mau bicara. Untuk ke depannya yg perlu diajarkan adalah cara mengatasi kecemasan jika dia memang merasa cemas di situasi wawancara/tes.βœ…

========

6⃣ Inayah, Jakarta

Kami termasuk keluarga sering yg berpindah2 kota. Hampir setiap 2th sekali. Konsekuensinya anak2 jg sering pindah sekolah. Alhamdulillah, selama ini anak2 bisa menyesuaikan diri dgn lingkungan barunya. Tentu lain ladang, lain ilalangnya.

Pertanyaannya, bagaimana kiat2 agar kami sbg ortu bisa menjaga nilai2 penting dlm keluarga? Maksudnya agar anak2 tidak mudah terbawa lingkungan dlm bersosialisasi.

Jazakillah khair.
=======

Jawaban:
Dalam menanamkan nilai-nilai kepada anak, kita jelaskan MANFAAT dari nilai-nilai tersebut dan apa KONSEKUENSINYA jika melanggar nilai-nilai yg kita pegang. Masa penanaman nilai adalah ketika usia prasekolah (mulai usia 4 tahun) dan terus berlanjut sampai anak tumbuh dewasa. Jika anak memahami maksud dari nilai-nilai yang kita tanamkan di diri mereka dan juga menyadari konsekuensinya jika melanggar, maka anak telah memiliki fondasi agar tidak terbawa arus pergaulan yg tidak baik. Anak masih dalam masa pertumbuhan, otaknya belum sepenuhnya matang, sehingga kontrol dirinya masih lemah. Oleh karena itu, kita tetap harus terus mengawasi anak-anak dan menjaga komunikasi dengan anak. Jika kita membiasakan diri untuk menjadi pendengar yang baik bagi anak, maka anak akan lebih mudah bercerita kepada kita. Anak yang merasa disayangi orangtuanya akan lebih terbuka untuk bercerita daripada anak yang merasa diabaikan orantuanya. Tunjukkan bahwa kita tertarik terhadap semua pengalaman anak ketika dia tidak bersama kita. Dari cerita anak itu kita bisa mengawasi dan mengontrol apa yg dilakukan anak. βœ…
=====

Tanggapan:
Bagaimana sebaiknya sikap ortu saat menemui anaknya mencuri-curi melakukan sesuatu yg sebetulnya sudah dipahami bersama utk tidak dilakukan krn tidak sesuai dgn nilai2 keluarga krn terbawa teman? Contoh sederhana: koleksi gambar2 Barbie yg terbuka auratnya πŸ˜…
=====
Jawaban:
Kita coba pahami dl apa yang dipikirkan anak, mencoba melihat dari sudut pandang anak. Tunjukkan kepada anak empati kita shg anak merasa dimengerti. Kita bilang “mama ngerti gambar-gambar barbie ini bagus.. cantik-cantik ya barbienya.. kita memang dikasih kecenderungan untuk menyukai yang cantik, indah, bagus. Tapi.. dalam Islam kan.. (kasih penjelasan nilai-nilai Islam lagi. Meskipun anak udah tau, tetap perlu diulang2). Kalau nyimpan2 gambar ini, khawatirnya aurat yg terbuka seperti gambar ini jadi dianggap sebagai hal yang wajar.. (dst, jelaskan lagi konsekuensinya). Semua yg kita lakukan kan sebaiknya yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.. lihat gambar barbie ini bikin inget sama Allah, ga? Gimana nanti pas dihisab trs ditanya ttg uang yg dipakai untuk beli gambar2 ini? Kan Allah melarang gambar mahluk bernyawa (dst)”. Jadi intinya kita ingatkan lagi nilai-nilai yg kita pegang. Anak-anak masih perlu bantuan orangtuanya dalam mengendalikan keinginan/impuls/hawa nafsunya. βœ…
==========

7⃣ Petty – Samarinda

Pertanyaan:
Anak saya usia 9 th dan 7 th, perempuan, jarak 20 bln, masih sering berebut, berantem. Yg usia 9 th, kl main dengan teman2nya baik2 saja. Gmn mbak ratih sebaiknya…?
======

Jawaban:
Ini masalahnya sibling rivalry ya.. kalau dr sisi perkembangan kognitif dan bahasa, anak usia 7 dan 9 tahun sudah lebih mudah diberi pemahaman untuk bergantian dalam menggunakan barang. Bunda bisa buat aturan/kontrak tertulis dalam penggunaan barang. Sanksi pelanggaran kontrak pun harus sudah disepakati di awal, sehingga ketika anak melanggar, ia harus siap menerima konsekuensinya. Misal, jika mereka masih berebut, maka mereka akan kehilangan hak menggunakan barang tsb. Untuk perselisihan lain antara anak, sebaiknya ortu tidak perlu ikut campur jika tidak ada kontak fisik atau perilaku yang berbahaya. Biarkan anak belajar menyelesaikan konfliknya sendiri. Jika ada pertengkaran, beri sanksi keduanya. Kenapa keduanya diberi sanksi padahal bisa saja hanya salah satu yg salah? Hal ini untuk mendorong anak untuk menahan diri agar tidak bertengkar krn siapa pun yg salah akan kena sanksi, sehingga yg merasa benar pun tidak akan membalas/melawan agar tidak kena sanksi dr ortu. βœ…

=======
8⃣Faroh – Jakarta
Begini mbk… Misalnya ayahnya bilang ke anak yang laki2 umur 11 th boleh main game di ipad asal ingat waktu sholat …boleh kah seperti itu? Tapi sering juga anak melanggar… enaknya kasih konsekwensi nya apa ya kl melanggar?
Main iPad dan main bersama temannya juga…
======
Jawaban:
Untuk anak 11 tahun sebaiknya main ipadnya masih dibatasi waktunya dan diawasi orangtua krn masih rentan melihat konten-konten yg tidak boleh dilihat. Untuk anak usia 11 tahun tetap masih belum bisa meregulasi (mengatur/memanage) diri dengan baik krn prefrontal cortex matang (berhenti berkembang) pada usia 18-25 tahun. Jadi tetap perlu pengawasan orang dewasa. Akan masih sulit bagi anak usia 11 tahun untuk bebas main ipad dan konsisten shalat 5 waktu di awal waktu. Kita saja yang sudah dewasa banyak godaannya untuk disiplin shalat di awal waktu, apalagi anak-anak. Intinya, anak masih perlu diawasi dalam menggunakan gadget, apalagi ia mendekati usia pubertas.
=======
Penutup
Alhamdulillah.. kita sudah sampai penutup diskusi.
Saya mau mengingatkan lagi, terutama bagi diri saya sendiri, bahwa anak lebih banyak belajar dengan meniru kita.. baik cara bersosialisasi dan hal lainnya. Sebagai orangtua kita harus mau terus mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih shalih agar menjadi teladan yang baik buat anak-anak kita. Antara perkataan dan perbuatan kita harus sejalan. Tidak menutup kemungkinan juga kita belajar dari anak. Seringkali anak menjadi cerminan diri kita, sehingga kita bisa terus introspeksi diri dalam mendidik anak. Semoga kita bisa mendidik anak dengan baik dan mencapai tujuan kita untuk berkumpul kembali di Surga-Nya.. aamiin

γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
πŸ”…πŸ”†πŸ”…πŸ”†hsmnπŸ”†πŸ”…πŸ”†πŸ”…
γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
πŸ‘₯facebook.com/hsmuslimnusantar
πŸ‘₯FB: HSMuslimNusantara Pusat
πŸ“· instagram: @hsmuslimnusantara
🐀 twitter: @hs_muslim_n
🌐 web:
hsmuslimnusantara.org

β£πŸ’ŸπŸ’•β£πŸ’ŸπŸ’•β£πŸ’ŸπŸ’•β£πŸ’Ÿ

KeMisTri akan hadir kembali…

Ya.. Perkemahan Keluarga Muslim Nyantri… In Sya Alloh pada:

πŸ—“21 – 23 September 2017
🏞 Bumi Perkemahan cikole, Lembang Jawa Barat
πŸ“²Info dan sponsor: 082138282456, 081392786598

β›°β›ΊπŸžβ›°β›ΊπŸžβ›°β›ΊπŸžβ›°β›ΊπŸž

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *